Kisah Santri Al-Ikhlash Goes to USA

Bahagia itu ketika saya berhasil membuat seorang ibu tersenyum. Sukses hakiki itu ketika saya berhasil menyeimbangkan keberhasilan duniawy dengan ukhrawy. Dua quote ini sengaja dipatri dalam benak saya dalam-dalam.

Tidak terasa sudah 19 tahun lalu saya lulus dari Al-Ikhlash tepatnya di tahun 1999 yang trend pada waktu itu disebut dengan Alumni Zaman Reformasi ‘99. Saya termasuk santri yang biasa-biasa saja, karena hari-hari di pesantren hanya berkutat pada kegiatan yang menurut banyak orang bukan aktivitas prestise. Aktivitas keseharian saya selain antri makan, mandi di sungai Ciberes, main basket, ikut Tapak Suci, ikut kursus Edelwise English Course (EEC) dan sekali-kali kalau ada panggung ikut ngelawak, kayak Panggung Gembira dan Aneka Ria Santri. Tidak hanya itu, jika dilihat dari organisasi santri, saya hanya “pembantu” pada bagian Keterampilan, bagian Cafeteria, satu-satunya organisasi yang saya emban secara mandiri adalah Anduperpus (Andalan Urusan Perpustakaan) di bawah Gudep Pramuka.  Sehingga wajar, saya hanya lulusan “maqbul,” dimana jenis lulusan ini tidak cukup untuk menjadi seorang ustads di pondok. Saya bingung mau ke mana…

Dari awal inilah saya berfikir: “apakah ini semua bisa membuat ibuku tersenyum?” saya yakin sekali, pasti jawabanya “tidak.” Teringat ketika di kelas, waktu itu pelajaran ilmu Mantiq yang diajar oleh ust. Tata Taufik, beliau mengatakan bahwa di Gontor pun ada perguruan tinggi, namanya Institut Studi Islam Darussalam (ISID), santri lulusan pesantren alumni (non Gontor/non KMI) juga bisa kuliah di kampus tersebut. Tidak banyak berfikir saya langsung bilang ke ibu, “saya ingin kuliah di ISID.” Ibu mengizinkan karena ternyata beliau ingin sekali anaknya bisa “sekolah” di Gontor.

Tahun 2000, saya naik kereta ekonomi (kondisinya sangat memprihatinkan pada waktu itu jika dibandingkan dengan kereta sekarang ini) duduk di bawah dan dekat toilet menuju Madiun Rp. 8000 dan dilanjutkan naik bis menuju kabupaten Ponorogo Rp. 2000, sampailah saya di ISID dengan mobil Angkodes jurusan Ponorogo-Mlarak Rp. 500. Masuk kuliah di ISID bagi santri yang non Gontor perlu perjuangan lebih, karena di awal saya harus melalui proses seleksi berkas, bahasa dan wawancara. Alhamdulillah, dengan semangat membara ingin memperbaiki diri, akhirnya saya lulus rangking 3 (1. pesantren Al-Barakah, 2. Albasyariyah dan 3. Al-Ikhlash) dari semua santri non gontor yang ikut seleksi. Inilah titik awal kebangkitan, dalam proses perkuliahan selanjutnya saya dipercaya pimpinan ISID untuk mengemban amanat organisasi mahasiswa dari SMF sampai DEMA, sampai akhirnya bisa lulus ranking 1 se ISID bahkan se Jawa Timur di tahun 2004. Bahkan bisa melanjutkan pendidikan S2 berprestasi 2011 dan S3 berprestasi dan berbeasiswa LPDP Kemenkeu RI 2017 adalah berbagai buah keberhasilan yang berproses dari titik kesadaran atas kejenuhan aktivitas. Keberhasilan-keberhasilan inilah membuat ibu tersenyum.

Saya tersadar, Al-ikhlash telah menempa dasar dan mental untuk menghadapi hidup di masyarakat. tidak hanya itu, saya pun tersadar bahwa selalu ada seleksi di semua proses kehidupan. Maka betul sekali jika ada yang bilang bahwa pondok adalah ibuku. Jadi, pondok adalah ibuku yang kedua. Pertanyaannya sekarang sudahkah saya membuat ibuku yang kedua ini tersenyum? Lagi-lagi jawabanyan pun “tidak,” bahkan sampai kapan dan dengan apapun upaya saya membuat ibu yang satu ini tersenyum, tidak akan cukup bahkan sampai akhir hayat. Hal ini diyakini, agar saya tidak merasa “paling” lebih dari lainnya memberi persembahan bagi pondok, oh ibuku. Sehingga ikhtiar untuk terus membanggakan dan membuat ibuku terseyum akan terus dikobarkan, sehingga kelak benar-benar pondok ini mencapai kejayaannya.

Untuk menjawab itulah, saya buat tulisan tentang “kisah santri goes to USA.” Keberangkatan saya ke USA ini adalah kali ketiganya mengikuti kegiatan formal dari pemerintah, sebelumnya pelatihan di IPG Kuala Lumpur & Turkey, serta pelatihan Technogoly University of Tampere Helsinki Finlandia, dan sekarang pendidikan pendek (short course) via Hongkong di University of California, Riverside USA.

Bagi santri, sudah bisa berangkat ke USA saja sudah luar biasa, why? Untuk menjawabnya, saya kisahkan tahap demi tahap, semoga pada tiap tahapannya dapat mengandung unsur pengalaman dan pembelajaran yang syarat makna bagi semua.

Tahap seleksi, bahwa program ini bernama Short Course LN bidang Spiritual Pedagogy. Dilihat dari bidangnya, tentu hanya sedikit saja dari para akademisi yang sesuai dengan bidang ini, ditambah lagi bidang ini mensyaratkan level doktoral. Jadilah hanya 29 orang yang melamar program ini dari 200-an doktor Religius Studies. Pelamar yang berjumlah hitungan jari ini harus melewati proses seleksi berkas online, pada tahap ini hanya 12 orang yang dinyatakan lulus berkas. Tidak behenti di situ,  tahap berikutnya yang harus dilalui peserta adalah seleksi wawancara. Dari seleksi ini keluarlah 7 nama yang lolos di web Direktorat SDM dan Karir Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristekdikti). Setelah dilihat, Alhamdulillah nama saya ada di dalam list dari 7 nama tersebut.

Tahap pengurusan Visa J-1, untuk kisah ini, saya sengaja mengutip tulisan kawan bernama Dr. Rika Astari;

“Sekedar untuk berbagi pengalaman pelaksanaan program ini, ada baiknya kami sampaikan proses mendapatkan Visa J1 dari Kedubes Amerika Serikat. Adapun mengurus administrasi untuk mendapat visa J1 ini bermula dari pengisian Bioform U1501-5 UCR yang kami kirim tanggal 5 Oktober 2018. Pada 18 Oktober, kami baru menerima surat appointment as visiting scholar, dilanjutkan mengisi isconline dengan membayar $500. Berikutnya, proses mendapatkan DS 2019. Kemudian DS 2019 ini ditandatangani tanggal 1 November 2019 di UCR. DS 2019 asli diperlukan untuk mendaftar dan dibawa saat wawancara visa di Kedubes Amerika. Sekitar 1 minggu  kemudian, DS 2019 pun tiba di alamat masing-masing peserta melalui FedEx dari UCR. Pihak travel membantu dalam pendaftaran untuk mendapat jadwal wawancara visa. Tangggal 13 November, dari 6 peserta yang mengikuti wawancara di kedubes Amerika yang mendapat kartu putih (kartu putih = lolos, hijau = kekurangan berkas, kuning = peninjauan berkas kembali) secara mulus hanya Dr. Abdul Karim dan lainnya Dr. Choirul Mahfud sekalipun ia sempat terkendala sedikit di foto, baru menyusul 2 orang berikutnya setelah memperbaiki berbagai persyaratan. Dikarenakan sudah mendekati  masa akhir perkuliahan di UCR, maka Rabu, 21 November 2018,  dengan 4 orang peserta (Dr. Abdul Karim, Rika Astari, Choirul Mahfud, dan Firdaus Wajdi) diberangkatkan dulu menuju California dengan rute Penerbangan Jakarta-Hongkong dan Hongkong-Los Angles. Sedangkan 2 peserta lagi (Ika yunia Fauzia dan nur Chanifah) menyusul dan tiba di California pada 25 November 2018. Tapi, kami sangat sedih sekali karena 1 orang peserta dari UPI tidak berhasil mendapatkan visa sehingga tidak bisa berangkat ke USA”

Dari kisah seleksi visa Amerika ini ada beberapa hal yang ingin disampaikan, siapkan berkas selengkap mungkin sesuai dengan persyaratan keduataan, bersikaplah santai ketika wawancara, serta adanya pengalaman pernah ke luar negeri, dan yang penting tidak benar bahwa nama Islamy, almamater islamy tidak bakal mendapat visa Amerika, selama semua syarat terpenuhi.

Tahap kehidupan di USA; Betul apa kata orang, hidup di Amerika itu sangat hard. Selain ekstrim cuacanya, juga keras gaya hidupnya. Salah satu kunci untuk bisa bertahan hidup di USA adalah bahasa, terutama bahasa Inggris. Sekalipun itu tidak cukup, karena USA adalah negara imigran, hampir semua bahasa dunia ada di Amerika. Maka bahasa lain yang harus dimiliki adalah bahasa Arab, syukur-syukur bisa bahasa EROPA; Prancis dan Jerman. Kunci bertahan hidup kedua adalah skill dan kompentensi. Dan kunci lainya adalah wawasan dan pengetahuan. Ada beberapa nilai-nilai kehidupan USA yang ingin saya share yaitu bahwa kegiatan keagamaan harus ditangani oleh orang bersertifikat; seperti memotong hewan Qurban. Hidup bebas yang penting tahu hukum dan batas. Pertanyaan personal (privacy) tidak dibolehkan seperti pertanyaan tentang seks, agama, dan politik. Pernikahan sangat tergantung dalam kontrak keduanya, misal dalam kontrak seorang suami boleh jaga rumah dan tidak kerja, maka ada istilah House husband. Ada aturan “No smoke no joke.” Bagi student untuk membeli alkohol itu harus pakai ID dengan aidigium “minumlah dengan tanggungjawab.” Gunakan common sense untuk acuan berperilaku; contoh pornografi tidak boleh child pornography. Seks tidak boleh memaksa dan tidak boleh melakukan pelecehan. Orang Amerika sangat konsen dan butuh dengan space (jarak), alias tidak suka berdesak-desakan. Serta, tidak boleh mengulang permohonan, jika sudah menolak, tidak boleh ditarik lagi.

Masih ada banyak tahapan lainnya, tapi semua tahap demi tahap dapat dilalui karena Al-Ikhlash, sekali lagi, sudah membekali saya dengan bahasa Inggris dan mental hidup di masyarakat. Saat ini saya sedang research and seat in University of California, Riverside USA, terima kasih yang tak terhingga kepada KH. Afandi, KH. Dr. Tata Taufik, dan KH. Ahim Absori, ustadz-ustadzku di era 90-an dan teman-teman Alansi serta semua alumni atas do’a dan dukungan. Sekali lagi terima kasih oh ibuku…

 

California, 13 Desember 2018

Abdul Karim