MENGGAPAI HAKIKAT SUKSES

oleh Dr. Abdul Karim DS, SPd, MPdI (Alumni Al-Ikhlash Tahun 1999)

Kesuksesan dan kebahagiaan merupakan dua target dan capaian yang banyak diharapkan oleh setiap muslim. Sehingga Al-Qur’an dengan tegas menyatakan (la’alla = supaya) dalam arti proses supaya sukses dan bahagia. Banyak ayat yang memuat kata-kata la’alla, seperti yang diakhiri dengan kata taqwa (la’allakum tattaquun = supaya kalian bertaqwa). Dengan maksud, bagaimana kita sukses menggapai taqwa sehingga kita bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Kesuksesan itu identik dengan keberhasilan di dunia, sedangkan kebahagiaan identik dengan keberhasilan di akhirat.

Banyak orang mendambakan kesuksesan pada bidang masing-masing sesuai dengan yang diharapkan. Kesuksesan yang dimaksud adalah kesuksesan duniawy yang banyak berorientasi pada materi, harta, wanita, jabatan dan lain sebagainya. Begitupula, tidak sedikit orang yang mendambakan kesuksesan yang berorientasi pada ukhrowy, berupa kebahagiaan di surga untuk menghindari siksa api neraka. Namun, hanya sedikit saja yang mampu menyeimbangkan antara kesuksesan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat.

Kesuksesan seringkali diukur dengan sesuatu yang tampak dan terlihat. Kesuksesan selalu bermuara pada materi yang bisa dirasa dan digunakan secara langsung, terkadang kesuksesan juga diukur dari kekayaan. Padahal bisa saja, orang yang rajin shalat dalam sehari 5 waktu tanpa bolong dan konsisten dapat disebut orang sukses. Karena sesungguhnya, melaksanakan shalat 5 waktu itu sangatlah berat bagi khalayak umum yang sudah disibukan oleh keinginan duniawy.

Adalah sebuah ketimpangan juga apabila kita hanya mengejar kesuksesan akhirat, sehingga melalaikan kehidupan yang sedang dijalani, baik berupa beramal sosial, mencari nafkah, mencari ilmu, maupun melestarikan alam dan lain sebagainya. Yaitu mengejar amalamal ibadah untuk dirinya sendiri dan menyendiri di tempat-tempat sunyi yang jauh dari keramaian. Mereka lupa bahwa di rumahnya anak-istri sudah menanti perhatian dan pendidikan yang layak serta nafkah untuk bertahan hidup. Sebaliknya, bila seseorang disibukkan dengan materi tanpa memikirkan ibadah untuk bekal di akhirat juga tidak sempurna, sehingga ia tidak sadar berapa dosa yang sudah diperbuat bagi dirinya maupun orang lain.

Kesuksesan hakiky adalah ketika adanya proporsional dan balance antara pencapaian kesuksesan di dunia dan pencapaian kebahagiaan di akhirat yaitu dalam rangka menghindarkan diri dari api neraka. Sebuah analogi, “bagaimana orang mau beribadah zakat kalau dia tidak punya apa-apa, dan apalah arti kekayaan kalau imannya gersang dan tidak mau berzakat”, keduanya tidak jaminan untuk dapat bahagia dan merasa tenang hidup di dunia dan akherat kelak.

Permasalahan yang muncul adalah sulitnya menyeimbangkan diri untuk bisa memaksimalkan hidup sukses materi di dunia dan mencapai bahagia semaksimal mungkin dalam ibadah. Terkadang waktu ibadah berbenturan dengan tuntutan kerja, dan terkadang juga nafkah yang kita cari bermasalah dengan halal dan haram di dalam agama. Mungkin dengan hadits ini bisa memberikan peringatan kepada kita semua agar mampu mencapai kedua tujuan di atas (sukses & bahagia) yaitu “’isy kariman au mut syahidan = hiduplah yang mulia atau matilah yang syahid) serta “ihris li dunyaka kannaka ta’iisyu abadan wa’mal li akhirotika kaanaka tamutu godan = carilah nafkah sebanyak-banyaknya seolah-olah kamu hidup selama-lamanya dan beribadahlah dengan mantap seolah-olah kamu mati besok hari).

Bila hadits di atas direnungkan dan dicermati, maka ia mengandung makna yang sangat mendalam, pesan yang pertama adalah kemuliaan. Orang kaya harus mulia dan orang miskin pun harus mulia. Ukuran mulia adalah dari kita sendiri. Bila kita baik, maka orang lain akan baik terhadap kita. Bila kita berperilaku baik, maka orang akan segan kepada kita, bukannya takut karena kita keras dan galak. Yang kedua adalah mati yang diakui kebenarannya (syahid). Mati syahid berarti kematian yang diridhai oleh banyak orang. Keridhoan itu muncul bila kita selalu mengamalkan ibadah-ibadah baik horizontal maupun vertikal dengan konsisten. Yang ketiga adalah tekun bekerja. Perintah nabi dalam haditsnya adalah “lakukanlah!” Artinya, kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan dalam rangka mencari harta yang baik dan benar, harta yang bersih dan harta yang baik cara pencariannya. Yang keempat adalah kerjakanlah! ibadah-ibadah yang bisa membantu (point=bekal) kita, kelak di akhirat.

Mengapa kita harus seimbang antara kesuksesan di dunia dan kebahagiaan di akhirat? Karena, nabi dengan tegas mengajarkan pengikutnya dengan do’a (rabbana aatina fid dunya hasanah = ya tuhan kami, berikanlah kami keduniawian yang baik-baik) dan (wafil aakhirati hasanah = dan begitupun, ajarkanlah ibadah-ibadah yang membuat kami bahagia di akhirat) serta (waqina adzaaban nar = dan tahanlah serta jauhkan kami dari adzab neraka). Contoh, orang kaya raya, dia sukses dalam bidang bisnis dan ia pun rajin ibadah dan beramal baik

maka hidupnya akan tenang dan bahagia. Tenang karena apa yang ia perlukan dan ia inginkan sudah tersedia atau mungkin mudah mendapatkannya. Iapun dalam keadaan yang bahagia karena hatinya selalu diselimuti oleh do’a dan ayat-ayat Al-Qur’an. Maka, orang seperti ini akan dijauhkan dari neraka dunia yaitu kesengsaraan dan neraka akhirat yaitu siksaan.