Santri #Viral

Oleh Aep Saepudin Zufri Alumni 2010 Penulis buku “KLIK SANTRI

Untuk tiga ke menit ke depan saya mengajak teman-teman sekalian untuk menangkap sebuah fenomena yang boleh dibilang agak samar-samar dalam jangkauan radius panca indra namun begitu ‘ngeh’ kita akan terbawa nuansa untuk mengiyakan hal itu.

Apa itu?

Sebut saja ‘Identitas santri’.

Sejak terbitnya buku ‘Klik Santri’ alhamdulilah respon positif berdatangan dari berbagai kalangan, baik yang memiliki latar belakang santri maupun tidak. Sambutan hangat berisi paparan mereka yang merasa lebih percaya diri akan identitasnya sekaligus terperana akan nilai-nilai yang menyatu dengan kehidupan berbungkus nostalgia. Beberapa orang langsung nge-chat via WhatsApp menyampaikan rasa terima kasih karena berkat buku tersebut seperti mengingatkan kembali memori yang hampir pudar. Lainnya lagi merasa terinspirasi.

Boleh dibilang, di dunia ini ada dua tipikal orang dilihat dari kacamata identitas soialnya’ yaitu yang masyhur dan mastur.

Mereka yang masyhur menyandang popularitas berkelas baik dipandang sebab keluasan ilmu, kesalehan, limpahan harta, kontribusinya terhadap masyarakat sehingga dicintai, memiliki kemampuan mumpuni untuk menginspirasi, cita rasa pemikiran yang mengagumkan sehingga pada tingkat terendah ialah ketika seseorang menjadi popular sebab mazaya (keistimewaan) yang dimiliki dan terlanjur #viral di jagat maya maupun nyata menyebar dari mulut ke mulut atau jari ke jari.

Adapun yang mastur sebagaimana kita ketahui ialah mereka yang luput dari sorotan media sehingga begitu jarang tampil di linimasa. Namun jangan salah, biarpun tak terendus dan hanya dikenal di kalangan terbatas akan tetapi keberadaan mereka umumnya lebih melekat di hati dan seringkali menjadi tempat peraduan atas masalah untuk diatasi, dihormati berkat ketawadhuan kemudian diteladani. Intinya orang-orang berasyik menjalin silaturahmi mendatangi.

Sepertinya perjalanan santri selama mesantren disusul kemudian dengan pengembaraannya hampir-hampir menyentuh kedua tipikal di atas. Selama mondok mereka seolah-olah dalam keadaan mastur ditutupi dan dibatasi dari ‘kebisingan’ dunia luar dan hanya sebagian kecil dalam keadaan tertentu mereka diperkenankan mengecapnya. Tapi jangan salah pula, diam-diam keberadaanya yang ter-cover justru di luar sana banyak yang membicarakan, memberi perhatian dan tak sedikit yang mengamati esensinya. Beberapa pemimpin dan tokoh Indonesia pun menyuarakan keyakinannya bahwa santri adalah grass root bangsa, sekaligus meyakinkan bahwa santri dengan segala potensi mampu untuk bersaing dan mencapai takdir terbaik. Di luar sana identitas santri cukup masyhur dan #viral.

FYI, beberapa hari ke belakang saya dihubungi oleh seorang penulis aktif menyampaikan permintaannya untuk saling tukar buku. Kemudian saya dikabari pula oleh editor bahwa orang tersebut melalui Gramedia telah menerbitkan berbagai buku ilmiah dan sekarang sedang dalam proses merampungkan project-nya menulis tentang santri. lagi-lagi ini rambu yang menunjukan bahwa santri memang #viral adanya. Bukan untuk melebih-lebihkan, saya hanya merasa heran koq naskah tentang santri bermunculan di sana-sini. Ada apa gerangan?

Sebaiknya fenomena ini kita perlakukan proporsional saja. Tidak berlebihan juga tidak diabaikan. Jika terlanjur melekat identitas kesantrian dan menjadi #viral maka ini amanah dari leluhur kita, para kiai, guru dan pejuang sehingga kita berkewajiban menjaga citra dirinya. Menjadi #viral di bumi adalah peluang untuk menyampaikan kebaikan dan bagaimana jika kita berusaha juga menjadi #viral di langit. Bukankah siapa saja yang duduk dalam suatu majlis ilmu dan dzikir mereka sedang diperbincangkan oleh para malaikat didoakan rahmat serta ampun baginya sebagaimana derap langkah Bilal Bin Rabbah sudah terdengar terlebih dahulu di surga meski masih hidup di dunia berkat shalat 2 rakaat yang selalu dia dirikan setiap usai melakukan wudhu.

Adalah mata rantai kebaikan jika santri #viral di bumi dan langit.