Kebermanfaatan Hidup & Karya

Oleh: Riki, S.S., M.Pd.

(Alumni Al-Ikhlash, Graduate of Ninety Seven (Granseve) Periode 1997

Kita menyadari secara kodrati setiap yang hidup dan bernapas itu pasti akan mati. Kehidupan manusia terbatas dengan taqdir kematian, dan itulah standar umur biologis manusia. Manusia tidak bisa menolak dan lari dari kematian. Kalau kita mengambil standar umur Rasulullah, 63 tahun,  maka lama dan panjangnya umur manusia bisa terhitung jari. Jika ada yang melebihi umur Rasulullah, mungkin itu merupakan bonus saja.

Suatu ketika pasti kematian itu akan datang menghampiri. Jasad kita dikuburkan dan dipendam di liang lahat, setelah itu sedikit demi sedikit tanah diturunkan dan akhirnya lubang kubur tertutup rata dengan tanah. Semua orang meninggalkan kita, termasuk anggota keluarga. Jikapun ada sebuah kenangan, hanya sebuah nama, alamat lahir dan wafat tertera di atas sebuh nisan. Itulah keterbatasan umur biologis, kita akan dilupakan dan kita tidak akan dikenal oleh generasi-generasi yang lahir setelahnya.

Dalam ajaran Islam, pendek dan panjangnya umur bukan menjadi dasar patokan penilian. Justru, penilaiannya dikembalikan dan berorientasi kepada kebermaknaan manusia itu sendiri selama hidupnya. Harapannya pasti semua menginginkan panjang umur dan bermakna. Tapi tidak sedikit yang panjang umur malah tidak bermakna, celakanya malah justru memberikan kemadaratan bagi kehidupan yang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidziy dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata: Seorang a’robiy bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang terbaik? Rasulullah saw menjawab: “Orang yang panjang umur dan baik amalannya”. Dan, siapakah orang yang terburuk, “Orang yang panjang umur dan buruk amalnya.”

Hadits Rasulullah tersebut memberikan motivasi kepada kita sebagai umatnya untuk memiliki kebermaknaan hidup. Kebermaknaan hidup memiliki garis linear dengan amaliyah, yaitu karya atau jasa yang kita buat. Karya yang kita lahirkan memberikan kebermanfaatan, sehingga karya banyak dinikmati dan dirasakan oleh  masyarakat. Disinilah mungkin tendensi bagi kita untuk memiliki umur historis selain dari ketetapan umur biologis. Umur historis itu lahir dari jasa dan karya, sehingga kita dikenal dan dikenang oleh masyarakat sebagai pahlawan sebagaimana makna pahlawan adalah phala (buah) yang dapat diambil manfaatnya. Kita ibarat pohon, bila pohon tidak menghasilkan buah maka kurang bermanfaat.

Bagi manusia buah(phala) atau karya merupakan kebermaknaan dari ilmu dan hidup yang diamalkan (dikaryakan). Kebermaknaan hidup ini menjadi penting, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah, “Sebaik-bainya manusia adalah mereka yang memberikan kemanfaatan bagi manusia yang lainnya.” Bahkan Rasulullah menjamin ummatnya dengan tiga pahala yang akan senantiasa mengalir bagi siapapun yang berkarya sekalipun dia sudah meninggal dunia. Salah satu pahala yang akan tetap mengalir itu adalah ilmu yang dimanfaatkan; kreatifitas yang memberikan kebermanfaatan. Kita akan memiliki passive income (pahala) setelah meninggal kerana karya yang kita tinggalkan dimanfaatkan dan dinikmata banyak orang.

Islam mengajarkan umatnya untuk bisa mengormati karya orang lain. Kemampuan menghormati karya orang lain dalam Islam merupakan akhlak mahmudah (akhlak terpuji) dan tentu mafhum mukhlafnya  orang yang tidak menghormati atau malah iri hati dengan karya dan jasa orang lain termasuk akhlak madzmumah (akhlak tercela), ini tentu berdosa. Semua ajaran ini mengindikasikan ajaran Islam menempatkan orang yang berkarya dalam kedudukan terhormat.

Dalam melahirkan karya, seseorang harus melalui proses-proses yang tidak mudah dan membutuhkan pengorbanan. Disinilah sebuah refleksi ajaran Islam mengharuskan ummatnya menghormati karya. Atas ajaran ini, kita semestinya memberikan penghargaan terhadap orang dan karyanya sebagai nilai dari keimananan kita. Penghargaan terhadap sebuah karya, sendirinya akan mendorong dan memotivasi orang untuk terus berkarya. Di sisi lain, sikap ini tentunya berlaku bagi orang yang belum memiliki karya untuk senantiasa termotivasi dan terpacu untuk melahirkan karya yang memberi kebermanfaatan. Jika semangat berkarya dibudayakan dan menjadi mental kita semua, maka ada semangat berkompetisi yang sehat dalam menghasilkan kebermanfaatan untuk kehidupan orang banyak.