Membaca Sebagai Gerbang Ilmu Pengetahuan

Oleh: Riki, S.S., M.Pd.

(Alumni Al-Ikhlas Graduate Ninety Seven (Granseve) Periode 1997

Suatu ketika Archimedes diperintahkan oleh Raja Syracaus (Herion II) untuk menentukan mahkota raja yang terbuat dari emas murni atau emas campuran. Pada awalnya Archimedes merasa bingung bagaimana mencari jawabannya, namun akhirnya berkat keseriusan dan keingin tahuan yang kuat Archimedes mampu menemukan jawaban atas perintah raja tersebut melalui sebuah kejadian yang sepele. Ternyata jawaban tersebut diperoleh ketika ia berendam di bak mandinya. Tubuh Archimedes masuk ke dalam bak mandi, dan airpun meluap keluar dari bak mandi.

Selama mandi rupanya Archimedes memikirkan pekerjaan rumah yang diberikan raja. Perbandingan berat mahkota dengan berat zat cair yang dipindahkan saat benda itu benar-benar tenggelam memberi Archimedes ide tentang apa yang kini dikenal dan disebut sebagai “berat jenis benda”. Begitu gembirannya ia menemukan kesimpulannya, sampai-sampai ia meloncat dari bak mandi itu, lupa mengenakan pakain lebih dahulu.

Archimedes hanya perlu memperoleh jumlah kuantitas emas yang digunakan untuk membuat mahkota itu, lalu menentukan berat jenisnya dengan peroses yang sama. Jika berat jenis emas dan berat jenis mahkota itu tidak sama, berarti mahkota itu mengandung emas campuran. Rupanya, tubuhnya yang berendam di bak mandi telah mengilhaminya untuk menemukan sebuah ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Rumusan yang diperoleh Archimedes di bak mandi itu sangat luar biasa peranannya sampai sekarang, terutama di bidang fisika. Pembuatan kapal laut, pesawat terbang, dan apa saja yang berhubungan dengan berat jenis benda dalam proses pembuatannya tentu tidak melupakan jasa Archimedes.

Archimedes hidup pada kurun waktu 230-290 SM, tentu penemuannya sangat spektakuler bagi manusia yang hidup 1708 tahun sebelum kita. Penemuanya memberikan inspirasi dan warna bagi kehidupan manusia di muka bumi sejak itu sampai hari ini.  Keinginan yang kuat Archimedes dan kejeliannya dalam membaca fenomena alam menjadi kunci utamanya. Merenungkan pertanyaan  melahirkan keinginan untuk senantiasa menelaah dengan penuh seksama, sehinga pada akhirnya dia menemukan kebenaran dan teori.

Cerita singkat Archimedes ini merupakan prolog yang saya kutip dari sebuah buku yang kemudian saya parafrase-kan kembali dalam paparan kali ini. Archimedes merupakan salah seorang dari sekian tokoh yang hasil penemuannya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dunia. Kenapa kemudian saya mengambil contoh sosok Archimedes, alasannya karena tema ceritanya sangat menarik dan sejalan dengan tema yang akan saya sampaikan pada paparan ini. Archimedes memiliki kejelian dalam merespon fenomena alam, dan jelas hal ini dapat menginspirasi kita untuk kembali lagi mempertajam daya respon kita dalam membaca fenomena-fenomena alam yang berada di sekitar kita atau bahkan pada diri kita sendiri.

Allah Swt telah menciptakan alam semesta dalam bentuk semesta kecil (mikrokosmos) maupun semesta besar (makrokosmos) dengan tanda-tanda keagungan yang tidak terhingga di dalamnya. Kreatifitas Allah dalam mencipta alam semesta pada hakekatnya bersumber dari sifat-Nya Al-Ilmu; pemilik segala ilmu pengetahuan.  Dengan demikian alam semesta  yang terbentang luas merupakan ayat-ayat Allah yang di dalamnya terdapat informasi-informasi ilmiah.  

Luasnya alam semesta yang tidak terbatas, tentunya banyak menyimpan rahasia. Rahasia alam  menjadi tanda tanya besar yang mesti direspon oleh kita selaku khalifah fil ardhi.  Perintah Allah kepada manusia dalam merespon fenomena-fenomena alam semesta sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Alaq 1-5, “(1) Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, (2)Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, (4) Yang mengajarkan (manusia) dengan pena, (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

 Manusia, Ilmu dan Keinginan

Manusia  sebagai khalifah fil ardhi atau wakil Allah di muka bumi diberikan rahmat berupa akal (ilmu) dan nafsu (keinginan). Dua sumberdaya ini menjadi modal besar manusia untuk mengakses informasi-informasi ilmiah yang masih tersirat di alam semesta. Firman Allah Swt.  pada Q.S. Al-Alaq dengan perintah  ‘iqra’ yang ditujukan kepada manusia (Nabi Muhammad) menjadi penanda bahwa manusia diberikan kewenangan untuk mengakses tabir alam semesta dengan kemampuan akal dan fitrah nafsunya; untuk terus-menerus memiliki keinginan mempertanyakan alam semesta bahkan dirinya sendiri. Dalam posisi inilah, manusia memiliki fitrah bertanya karena keingintahuannya dan fitrah berpikir untuk mencari jawaban dari keingintahuanya tersebut, sehingga manusia menjadi satu-satunya makhluk yang senantiasa berbudaya dan berkarya cipta tanpa henti.

Pada dasarnya,  kemampuan manusia dalam ‘berpengetahuan’  sudah menjadi  kromosom bawaan dari Nabi Adam as. Adam sebagai bapak manusia diberikan anugrah  berupa jumlah pengetahuan dan informasi lebih banyak dibandingkan makhluk lainnya, “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda)semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (Q.S. Al-Baqarah: 31). “Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”(32).  

Allah Swt. telah mengajarkan Adam berupa pengetahuan atau informasi (nama-nama benda). Nama-nama benda merupakan objek pengetahuan dan itu diajarkan oleh Allah sebagai pemilik  informasi. Setelah Allah mengajarkan pengetahuan, Adam selaku subjek  menjadi ‘tahu’ sehingga dia mampu menyebutkan dan menginformasikan knowledge kepada malaikat. Objek pengetahuan apakah yang telah dinformasikan Allah kepada Adam tersebut? Objek pengetahuan itu tidak lain adalah berupa pengetahuan rahasia langit dan bumi, “Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukan kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”(Q.S. Al-Baqarah: 33).

Pengetahuan Adam as pada hakekatnya adalah pengetahuan Allah. Allah mengetahui rahasia langit dan bumi dan Allah sebagai Al-Alim mengajarkan dan memberi informasi tentang rahasia langit dan bumi kepada Adam. Pada pemahaman ini, berarti Adam menjadi makhluk yang paling berpeluang untuk mengetahui rahasia langit dan bumi karena dasar pengetahuannya yang diwahyukan, wajarlah jika Adam (manusia)  dijadikan makhluk yang paling mulia dibanding makhluk lainnya. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah: 34).

Sebagaimana kita pahami, wahyu merupakan informasi, pengetahuan, atau hidayah Allah yang hanya diberikan kepada nabi dan rasul. Namun, dalam kajian Islam, wahyu juga dihidayahkan kepada seluruh manusia dalam bentuk Ilham Fitriah yang dianugrahkan sejak lahir. Ilham fitriah yang menjadi fitrah bawaan  yang dimaksud adalah berupa perangkat lunak yaitu akal dan nafsu manusia. Dengan modal akal dan nafsu, manusia berpeluang untuk mengetahui rahasia langit dan bumi. Sebagaimana langit dan bumi menjadi objek dan tema besar terlahirnya ilmu pengetahuan itu sendiri.

Q.S. Al-Alaq: 1-5 merupakan ayat yang pertama kali diturunkan ke muka bumi dengan substansi perintah membaca. Perintah membaca merupakan perintah pertama Allah kepada manusia sebelum perintah-perintah ibadah mahdah shalat, zakat, puasa dan haji. Hal ini mengisyaratkan ‘membaca’ memiliki kedudukan mulia dan penting di sisi Allah Swt.

Tentunya, sebuah perintah Illahiyah umumnya memiliki makna binary opposition berupa keharusan (wajib) dan larangan (haram). Perintah membaca dalam Q.S. Al-Alaq memiliki substansi  keharusan untuk direspon dan dilaksanakan oleh hamba Tuhan sebagai aktifitas berpahala, dan konsekuensi berdosa jika ditinggalkan. Dalam hal ini, secara tidak langsung perintah ‘membaca’ merupakan kewajiban bagi setiap manusia, khusunya lagi muslim yang telah mukallaf. Namun, walaupun demikian bukan berarti ‘membaca’ menjadi tambahan poin dalam Rukun Islam yang lima sehingga menjadi enam. Saya hanya menegaskan bahwa ketika Tuhan memerintahkan sesuatu, jelas sesuatu yang diperintahakan itu sangat penting dan harus dilaksanakan oleh hamba-Nya. Seberapa pentingkah membaca? Sampai-sampai Allah memerintahkan-Nya.

Jika benar asumsi ini, lantas membaca seperti apakah yang dikehendaki Allah Swt. sehingga menjadi keharusan bagi kita? Secara historis perintah membaca diwahyukan kepada nabi Muhammad saw di Gua Hira. Jibril sebagai Malaikat yang bertugas  menyampaikannya, memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk membaca. Apa yang harus dibaca oleh Nabi Muhammad saw, sementara beliau adalah ‘ummi’ tidak bisa membaca tekstual. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah perintah ‘iqra’ memiliki isyarat dan makna yang lebih luas dari makna tekstual itu sendiri?

Hakekat Membaca

Untuk mengetahui makna membaca pada surat al-Alaq, ada baiknya jika diawali dari definisi etimologi bahasa. Secara harfiah kata iqra merupakan kata perintah (fi’il amr) yang berasal dari kata dasarnya qara’a (fi’il madi) dan yaqrau’ (fi’il mudhari) yang memiliki arti membaca. Dalam kamus-kamus bahasa ternyata kata qara’a  tidak hanya diartikan membaca, namun diartikan pula: menghimpunmenelaah, mendalami, dan meneliti. Pada titik definisi ini,  membaca memiliki makna yang lebih luas dari sekedar membaca tekstual.

Berdasar pada definisi etimologi bahasa, kelihatannya perintah membaca dalam Q.S. Al-Alaq memiliki kecenderungan makna membaca yang lebih luas ketimbang membaca dalam arti tekstual. Alasannya sangat jelas, karena setelah perintah ‘iqra’ ada ketegasan firman selanjutnya “Dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” Berarti perintah ‘iqra’ dalam Q.S. Al-Alaq lebih memiliki makna perintah ‘telitilah’.

Ketegasan redaksional dalam penciptaan manusia pada ayat 2 Q.S. Al-Alaq memberikan informasi penciptaan manusia yang penuh dengan rahasia; keberadaan darah sebagai bahan dan relasi terciptanya manusia. Darah (sel-sel darah) merupakan sebuah dunia halus (mikrokosmos), dan itu adalah semesta yang harus ditelusuri oleh manusia sendiri, tentunya dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Apa itu darah? Unsur apa yang terkandung di dalam darah? dan pasti banyak lagi pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya mengenai darah sebagai elemen pembentuk kehidupan. Memang rumit kedengarannya, tetapi  begitulah Allah Swt sebagai Tuhan Maha Pencipta (Al-Khaliq) memiliki daya cipta yang tidak terbatas. Keagungan kreasi Allah dalam mencipta dikembalikan kepada kekuasaan-Nya itu sendiri sebagai Rab yang memiliki sifat wajib Maha Mengetahui (Aliman) dan Maha Menghidupkan (Hayan) dengan kombinasi sifat Maha Memperhitungkan-Nya (Al-Hasib); Allah menciptakan sesuatu dengan  ketelitian tingkat tinggi bahkan tidak terhingga.

Firman Allah, “Bacalah! dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” merupakan perintah yang bersifat ilmiah kepada manusia untuk mencari fakta kebenaran Allah dengan kekuatan penelaahan dan penelitian ilmiah. Fakta ilmiah yang dimaksud adalah fakta ilmiah Ilahiyah yang tersirat dibalik proses penciptaan manusia khususnya dan alam semesta pada umumnya yang perlu diurai kerahasiaannya.

Tentu proses penelitian ilmiah yang diharapkan adalah penelitian yang terikat dengan tali iman mengatas-namakan Allah (bismi rabika).  Dengan mengatas namakan Allah, proses pencaraian kebenaran dengan penelitian ini diharapkan mampu menemukan fakta-fakta rahasia alam sebagai fakta keberadaan Allah, sehingga kalau ditarik benang merahnya sampailah pada pemahaman perintah membaca pada Q.S. Al-Alaq sebagai rangka menguatkan transenden imanen kita terhadap kebenaran  wujudiyah Allah Swt. sebagai bukti kebenaran pencipta semesta alam yang Maha Ada (Al-Wujud) yang memiliki ketetapan (Qudrat) dan keinginan (Iradah).

Nampaklah jelas,  bahwa membaca yang diinginkan oleh Allah Swt bukan membaca dalam makna harfiah. Firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Alaq  memerintahkan kita membaca dengan tendensi level yang lebih tinggi. Membaca level tinggi sebagaimana makna varian etimologi bahasa merupakan membaca dalam bentuk pemahaman, pendalaman dan penelitian. Proses penciptaan manusia merupakan ayat-ayat kekuasaan Allah Swt yang tidak terperangkap dalam struktur tekstual, tetapi lebih kepada (ayat) kontekstual yang perlu direnungkan dan diteliti. Perintah membaca atau meneliti terhadap ayat-ayat kekuasaan Allah Swt. ini diperkuat oleh firman-Nya dalam  Q.S.  Ar-Rum ayat 20, “Wa min ayatihi an kholaqokum min turobin tsumma idza antum basyarun tantasyirun “ yang artinya “Dan sebagian dari ayat-ayat Allah adalah Dia menciptakan kalian dari tanah lalu kalian (menjadi) manusia yang berkembang biak.”         Demikian pula firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 164, “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir.”

Betapa pentingnya membaca sehingga membaca mendapat kedudukan terhormat di sisi Allah Swt., “Iqra, warabuka akram.”, artinya,“Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia.” Perintah membaca diiringi dengan firman kemuliaan Tuhan, hal ini memberi relasi penting antara orang yang berilmu dengan kemuliaannya. Allah Swt. dengan sifat nafsiyah-Nya Maha Mulia (Al-Karim) akan memancarkan kemuliaan-Nya kepada setiap orang yang berilmu. Emanasi pancaran kemuliaan itu sebagaimana difirmankan dalam Q.S. Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” Demikian pula Nabi Muhammad saw sangat menjunjung tinggi kemuliaan orang-orang yang berilmu, “Barangsiapa menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka wajiblah ia memiliki ilmunya, dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akherat, maka wajiblah ia memiliki ilmunya, dan brangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) keduanya, maka wajib ia memiliki ilmu kedua-duanya pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Q.S. Al-Alaq: 1-5 memiliki relasi kuat antara membaca  dengan ilmu pengetahuan. Ternyata  Allah Swt. mengajarkan dan memberitahu manusia tentang sesuatu itu tidak ujug-ujug tetapi proses. Disinilah kita memahami makna ilham fitriah Allah kepada manusia terdefinsikan kedalam istilah taklim; sebagai kekuatan manusia dalam mencari, bekerja keras dan belajar untuk mendapatkan informasi atau ilmu pengetahuan. Surat Al-Alaq ayat 4 dan 5 mengindikasikan pencapaian ilmu pengetahuan manusia melalui proses normatif pembelajaran, “(4)Yang mengajarkan (manusia) dengan pena, (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Kata pena (qalam) merupakan kata pilihan Tuhan yang digunakan sebagai simbol alat pembelajaran, sebagaimana pena sebagai alat yang digunakan  manusia untuk menulis atau mengikat informasi.

Allah Swt. mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya dengan perantara pena, sebagai relasi antara Tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang melekat di alam semesta dan manusia sebagai pencari ilmu (peneliti) dapat mentransfer informasi ilmiah Allah kedalam bentuk tekstual. Tentu, dalam hal ini bahasa sebagai  file yang mampu menyimpan informasi dan pengetahuan yang telah diteliti dan ditemukan oleh manusia. Sehingga nampaklah jelas relasi antara pena sebagai alat pengikat informasi dengan membaca sebagai proses transfer manusia dalam menemukan dan melanggengkan  ilmu pengetahuan. Dalam penalaran filsafat, Plato pernah mengemukakan relasi alam semesta dengan pengetahuan manusia dalam teorinya mimetion; kreasi atau ilmu manusia didapatkan atau hasil dari jiplakan  semesta alam. Namun, tetap manusia pula diberi otonomi dan kewenangan untuk berkreasi dan berinovasi terhadap apa yang telah di dapatkannya dari inspirasi alam.

Melalui Q.S. Al-Alaq, rupa-rupanya Tuhan menghendaki hamba-Nya untuk mengenal dan menemukan kekuasaan-Nya dengan sebuah kunci yang bernama ‘membaca’. (Wa Allahu a’lam bisawab).