Memahami Idul Adha

Kesyukuran Tahunan

Idul Adha secara bahasa berarti hari raya penyembelihan hewan qurban. Ini merupakan hari raya kedua bagi ummat Islam, yang pertama adalah Idul Fitri, yang baerarti hari raya fitrah, karena berakhirnya puasa satu bulan Ramadlan ditutup dengan perayaan untuk kembali pada pola hidup normal sebagaimana mestinya setelah satu bulan memiliki pola hidup lain yaitu suasana pensucian jiwa dan peribadahan dengan berpuasa dan amalan lainnya. Berbeda degan idul fitri, idul adha adalah sarana untuk mengungkapkan kesyukuran atas ni’mat yang diberikan Allah SWT kepada ummat manusia selama satu tahun, sepeti yang diketahui bahwa bulan Dzul Hijjah adalah bulan ke 12 dalam takwim hijriyah, yang berarti penutup tahun hijriyah.

Apa yang dilakukan ketika menutup tahun? Jawabannya adalah dengan menyukuri segala ni’mat yang diberikan Allah kepada kita. Bentuknya seperti apa? Yaitu dengan mendirikan shalat sunat dua rakaat dan khutbah, kemudian setelah usai shalat menyembelih binatang ternak sebagai bentuk kesyukuran (bagi yang mampu) untuk dibagikan kepada mereka yang dinilai kurang mampu. Sebagaimana diperintahkan dalam al-Qur’an surat 108 ayat 1-2. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah halat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (sembelihlah qurban).

Selain dengan melaksanakan shalat idul adha dan menyembelih qur’ban, bentuk kesyukuran juga diisi dengan menyebut dan mengagungkan Allah SWT, dengan senantiasa menyebutnya dalam beberapa hari, yakni diisi dengan bertakbir, tahlil dan tahmid, mulai dari menjelang idul adha sampai tiga hari sesudahnya (hari tasyriq). Pada hari ini dilarang berpuasa, hari berbilang ini merupakan kesempatan untuk berdzikir sebagaimana diungkap dalam al-Qur’an surat 2: 203 . dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.

Sungguh indah cara berterima kasih yang diajarkan oleh Allah bagi ummat Islam, yaitu dengan menjalankan shalat mendengarkan wejangan, pesan dan nasehat tahunan, kita kenal hal serupa yang bersifat mingguan dengan menjalankan shalat jum’at. Adapun dalam kontek kesyukuran akan ni’mat yang dilakukan secara tahunan adalah shalat yag diikuti dengan penyembelihan qurban sesudahnya serta berdzikir. Hal ini berarti ungkapan terima kasih yang dilakukan secara sadar atas berbagai ni’mat, bahwa semuanya karena karunia Allah, maka berterima kasihnya dengan bentuk peribadahan dan takbir, tahlil dan tahmid, sebuah pengakuan akan peran serta Allah dalam berbagai ni’mat yang diterima. Selanjutnya sebagai bukti bahwa materi yang didapat dalam kehidupan itu berasal dari Allah, maka dengan senang hati mengharap ridla Allah sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah, dikurbankanlah sebagiannya, untuk sama-sama dini’mati oleh hamba Allah yang lain. Niatnya murni karena Allah, dampaknya dirasakan oleh sesama hamba Allah.

Dzikir: Takbir, Tahlil dan Tahmid.

Lapadz takbir الله اكبر  merupakan pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT, artinya segala sesuatu selain Allah itu kecil, semua maklhuk yang ada, semua permasalahan yang ada adalah kecil di hadapa Allah, termasuk diri kita juga kecil di hadapan Allah, maka tidak ada alasan untuk sombong, untuk kecewa karena menghadapi permasalahan yang dirasakan besar, dengan menyadari bahwa Allah Maha Besar, maka akan terkikislah rasa sombong dan kenagkuhan, dan akan bangkitlah rasa optimis dalam menghadapi masalah sebesar apapun, karena ada keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan atas berbagai permasalahan yang dihadapi. Ungkapan takbir juga berarti kesyukuran bahwa karena kebesaran Allah seseorang bisa mendapatkan apa yang didapatkannya hari ini dan masa silam serta masa yang akan datang, jadi ada ungkapan rasa terima kasih, ada rasa percaya diri dan ada pengharapan.

Laa Ilaaha Illa Allah, لا اله إلا الله  lapadz ini diungkapkan dalam bentuk negatif, sebuah pengakuan akan keesaan Allah dengan memilih penyataan dalam bentuk negatif ini mengandung arti bahwa manusia pada dasarnya memiliki keyakinan akan adanya tuhan, sehingga manusia banyak menganggap atau menuhankan sesuatu selain Allah, karena keyakinan akan tuhan yang bermacam-macam itu tidak benar –walaupun beredar di kalangan banyak orang—maka keyakinan itu perlu dihapus dan diluruskan, diganti dengan hanya satu Tuhan saja yaitu Allah SWT. Sehingga ungkapan pengakuan ketauhidan dimulai dengan “meniadakan tuhan yang lain” kemudian dikukuhkanlah Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Artinya tuhan yang lain harus diyakini tidak ada hanya Allah Tuhan yang sebenarnya.

Dengan mengucapkan lapadz tahlil (disebut juga kalimah tauhid) berarti seseorang telah menghapus keyakinan akan tuhan-tuhan kecil dan mengukuhkan Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah sebagai sembahannya.

Lillahi al-hamdu و لله الحمد  atau al-hamdu lillah الحمد لله berarti pernyataan bahwa segala pujian hanyalah milik Allah. Tindakan dan rasa memuji atau menghargai sesuatu merupakan salah satu kebutuhan manusia, sebagaimana juga rasa ingin dipuji juga melekat pada diri manusia, hal itu merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi. Akan tetapi dalam keduanya –baik dipuji maupun memuji—diingatkan ada yang sifatnya nisbi, artinya tidak dalam pengertian yang sebenarnya, dan ada yang sifatnya hakiki yakni yang sebenarnya. Semua yang berhubungan dengan manusia atau makhluk itu sifatnya nisbi, seperti seseorang memuji orang lain karena kebaikannya, itu tidak berarti bahwa orang itu pantas dipuji dan tak terbantahkan, karena sipatnya makhluk itu memiliki kelemahan, maka “pujian” tadi hanya dihubungkan dengan tindakan atau keadaan tertentu, karena dalam tindakan atau keadaan tertentu boleh jadi ia memiliki kelemahan atau cela. Adapun pujian hakiki dan tidak terikat dengan tindakan dan keadaan tertentu adalah milik Allah SWT semata. Dengan mengucapkan alhamdalah, seorang hamba mengakui bahwa pujian yang hakiki itu hanya pantas untuk Allah, dengan pengakuan seperti ini maka ketika dia mendapat pujian (nisbi) dari seseorang dia akan langsung kembalikan kepada yang lebih berhak yakni Allah dengan mengucap al-hamdulillah. (disarikan dari Wejangan Malam Takbir Idul Adha Oleh Pimpinan Pondok)