Lebaran Dari Kultur Hingga Agama

Oleh M. Tata Taufik*

Idul Fitri secara bahasa sering diartikan kembali kepada fitrah atau kembali kepada kesucian (îd =kembali, fitri= suci). Dari sudut bahasa juga îd berarti hari raya dan fitri berarti berbuka puasa (makan dan minum setelah puasa). Jadi idul fitri berarti hari raya sebagai pelepas puasa, atau suatu perayaan yang dilakukan karena selesainya tugas berpuasa satu bulan penuh bagi ummat Islam. Dalam tulisan ini idul fitri akan diartikan sebagaimana pengertian kedua; suatu perayaan karena selesai berpuasa.

Manusia dan Perayaan:

Dalam kehidupan sehari-hari manusia disibukkan oleh berbagai aktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di satu sisi dan pengabdian kepada penciptanya di sisi lain, dalam Islam aktifitas tersebut disebut ibadah. Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki perayaannya sendiri, banyak alasan bisa dijadikan dasar suatu hari dirayakan, seperti karena penghargaan atas kekuatan agung (super natural) , terbebas dari bencana, mendapat kebahagiaan, acara-acara yang dianggap penting dalam kehidupan seperti perkawinan, kelahiran, kematian dan lain-lain sering dijadikan alasan untuk mengadakan perayaan. Secara kultur kegiatan tersebut merupakan ekspresi suatu masyarakat tertentu atas kehidupan yang dialaminya.

Perayaan bisa berbentuk religius bisa juga berbentuk kenegaraan atau bahkan perayaan kelompok tertentu berdasarkan kedaerahan, untuk perayaan kenegaraan misalkan kita bisa lihat perayaan kemerdekaan, hari pahlawan, kebangkitan, dan event -event lain sesuai kesepakatan suatu bangsa.

Secara kultural dapat dikatakan bahwa manusia senantiasa melaksanakan perayaan dan memiliki hari raya sendiri, dan ini terjadi sejak adanya sekelompok manusia dan mereka mengekpresikan perasaannya. Kegiatan tersebut sengaja dilaksanakan selain sebagai ekspresi jiwa juga sebagai cara untuk memelihara tradisi dan nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat, demikian seperti yang diyakini para antropolog.

Cara Perayaan:

Bentuk perayaan demikian beragam sesuai dengan interpretasi kelompok tertentu atas ‘makna’ dari perayaan yang mereka laksanakan, untuk apa atau karena alasan apa perayaan itu dilakukan. Ada yang menggunakan tari-tarian ritual, nyanyian ritual, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat primitif, biasanya kegiatan tersebut didpimpin oleh kepala suku atau ‘medioator’ keagamaan yang menghubungkan antara manusia dengan kekuatan supernatural.

Bagi negara biasanya perayaan ditandai dengan upara formal, penaikan bendera, parade pasukan dan lagu kebangsaan acara dipimpinoleh kepala negara atau kepala pemerintahan di bawahnya secara serentak di seluruh wilayah.

Bagi penganut keyakinan tertentu biasa juga melakukan upacara perayaan sesuai dengan budaya, latar belakang profesi kelompok masyarakat; petani atau nelayan serta latar belakang kedaerahan.

Namun sebagaimana diungkap di muka, semua perayaan tersebut merupakan ajang unjuk kebahagiaan dan keceriaan, pemeliharaan suasana keutuhan dan kesatuan suatu kelompok masyakarat tertentu. Maka tidak heran jika acara tersebut diwarnai dengan pemberian hadiah, saling mengunjungi, dan saling bertegur sapa serta permohonan maaf yang semuanya berorientasi pada rasa kesatuan, kedamaian dan kebersamaan.

Lebaran Sebagai Perayaan:

Seperti dinyatakan di atas bahwa perayaan bisa berpangkal dari suatu keyakinan agama, maka lebaran atau idul fitri adalah salah satu dari bentuk perayaan yang diajarkan dan diatur oleh agama Islam. Kalau didefinisikan dapatlah dikatakan bahwa lebaran adalah suatu hari raya bagi ummat Islam yang dilaksanakan selepas suatu kegiatan ‘pensucian jiwa” selama satu bulan penuh, atau penutup bulan suci Ramadhan.

Agenda yang diajarkan dalam tata cara perayaannya juga sudah ditetapkan secara religi –bandingkan dengan protokol upacara kenegaraan, dalam al-Qur,an disebutkan: “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” Al-Haj : 67

Agenda utama dalam idul fitri adalah shalat îd, kemudian dzikrulllah dengan mengumandangkan takbir. “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang….” Al-baqarah:203. Pada shalat îd, seluruh jamaah; warga komunitas tertentu, tua maupun muda, pria wanita, bahkan sampai anak-anak dianjurkan untuk mendatangi arena shalat îd, dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan. Dipimpin oleh seorang imam mereka melaksanakan shalat dua rakaat, diiringi berikutnya mendengarkan khutbah (wejangan-wejangan ketakwaan; senantiasa mengingat Allah, bersyukur, dan menjadi semakin baik di hari berikut), kemudian setelah kegiatan peribadahan shalat dan studi tahunan tersebut biasanya dipungkas dengan tradisi mushafahah (salam -salaman sebagai simbol kebersamaan dan kesatuan serta kedamaian). Itulah bentuk perayaan shalat îd sebagaimana yang diajarkan.

Ada suatu yang menarik dalam sistem peribadahan dalam Islam, kalau disimak suatu kegiatan yang dinilai “penting” atau sanagt urgen dalam pandangan aqidah seperti gerhana matahari maupun gerhana bulan (kedua kegiatan ini bisa menimbulkan interpretasi yang berisi kemusyrikan) Islam senantiasa menganjurkan shalat dan khutbah. Anjuran tersebut juga berlaku pada kegiatan penting seperti tata cara perayaan idul fitri dan idul adha, ini yang bersifat kolektif, yang bersifat individual juga demikian pada saat manusia memiliki kebutuhan (hajat) yang mendesak dan saat ia harus memilih atau memohon rijki, juga dianjurkan shalat; shalat hajat, istikharah, serta dhuha.

Kenyatan ini kalaulah disimpulkan secara singkat dapat dipahami sebagai cara mengekspresikan kondisi kejiwaan yang paling baik adalah melalui shalat, sehingga semua permasalahan senantiasa terhubung dengan Allah SWT.

Dari sudut lain juga bisa mengandung pengertian bahwa misi dari ibadah shalat bisa berperan secara psikologis; mencegah perbuatan keji dan kemunkaran, serta sarana mohon pertolongan. Seperti diungkap dalam surat Al-Ankabut 45: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dan surat Al-Baqarah 45: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`.

Dalam kontek perayaan biasanya sering terjadi kebahagiaan yang berlebihan dan mencari-cari cara untuk berbagahgia, yang kadang justru berakibat ‘tidak baik” untuk itulah barangkali perayaan harus diisi oleh kegiatan shalat dan studi (mendengarkan khutbah) sehingga kaum muslimin bisa terhindar dari perbuatan yang merugikan dirinya sendiri mapun orang lain. Kemudian ayat dari surat Al-Baqarah menunjukkan bahwa cara memohon pertolongan –karena ini juga kondisi kejiwaan yang rawan dan bisa membuat orang tergelincir pada kemusyrikan– adalah dengan shalat dan kesabaran.

Hari Bahagia:

Dinamakan hari raya karena ada perayaan dan suatu yang dirayakan, apapun alasan perayaan tersebut ia akan selalu diisi dengan keceriaan dan kebagahiaan, kalaulah suatu komunitas tertentu berbahagia karena merasa terlepas dari belelnggu penjajahan mislakan, maka pada hari kemerdekaan ia akan mempersiapkan berbagai hal untuk menggambarkan kebahagiaannya.

Idul fitri adalah hari raya bagi semua ummat Islam di seluruh dunia, di sini perayaan dilakukan serentak tanpa terhalang oleh batas wilayah tertentu, keterikatan keislamanlah yang membuat kekompakkan untuk menyelenggarakan perayaan tersebut. Banyak alasan untuk berbahagia di idul fitri, pertama bahagia karena kemampuan yang diberikan Allah untuk bisa berpuasa satu bulan penuh, ada semacam kenyukuran atas kemampuan yang diberikan. Kedua bahagia karena tibanya saat untuk berbuka puasa dalam pengertian yang luas, syukur atas kesempatan kehidupan di hari ini dan esok. Ketiga bahagia karena diberi kes, bisa mudik, bertemu keluarga dst.

Oleh karena kebahagiaan ini bersifat religi maka cara-cara yang dipilih untuk mengungkapkannya juga selayaknya sejalan dengan cara-cara yang diajarkan agama: berkumpul untuk melaksanakan shalat, memakai baju yang paling bagus yang dimiliki —ini supaya dipahami sebagai syukur ni’mat dan etiket berkumpul dengan orang banyak, mempersiapkan hidangan sebagai ciri kebahagiaan, membayar zakat fitrah selain kewajiban agama juga sebagai simbol membagi kebahagiaan, bersilaturahim dan saling memaafkan, inilah kultur lebaran yang biasa berlaku di kita. Aneka persiapan untuk lebaran tersebut sah-sah saja sebatas untuk menciptakan kebahagiaan dan kegembiraan, asalkan dalam kerangka “kebolehan” yang diperkenankan agama.

Dari semua persiapan tersebut yang terpenting adalah senantiasa menciptakan suasana kebahagiaan di hari idul fitri ini; berusaha berbahagia dan mentransfer kebahagiaan baik secara individual; bahagia untuk diri sendiri, bahagia keluarga; membagi dan menciptakan kebahagiaan di lingkungan keluarga, dan bahagia sosial; yang tidak bersifat pribadi dan familier, tapi menciptakan kebahagiaan dalam diri masyarakat lebih luas, dan terakhir, jangan sampai kebahagiaan tersebut dinodai dengan dengan cara-cara yang justru berlawanan dengan apa yang dianjurkan agama, seperti mabuk-mabukan dan lainnya. Semoga bahagia.