1. Prasangka Buruk

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ (رواه مسلم)

“Rasulullah SAW bersabda: Hati-hatilah terhadap prasangka buruk, sebab prasangka buruk perkataan yang paling bohong. (Muttafaq alaih)”

Kandungan Hadits:

  • Anjuran menjauhi prasangka buruk
  • Maksud الظَّنَّ di sini artinya buruk sangka terhadap sesama muslim; terbersit dalam hati bahwa seseorang berlaku buruk atau jahat.
  • Kenapa dilarang? Karena “parasngka” itu bisa benar bisa juga salah padahal melalui dugaan itu seseorang bisa menjadikannya sebagai dasar untuk menghukumi orang lain
  • Ada juga yang mengartikan الظَّنَّ di sini “dakwaan” atau tuduhan tanpa alasan. Sehingga yang dilarang adalah menuduh orang atas suatu perbuatan tanpa bukti.
  • Menurut Zamakhsyari الظَّنَّ terbagi empat: wajib, haram, mandub dan mubah: wajib husnudzan kepada Allah, Haram: suudzan kepada Allah dan kepada orang muslim yang jelas-jelas “berprilaku baik” dan diakui kebaikannya “adaalah”. Manduub adalah husnudzan kepada orang yang jelas kebaikannya dan ‘adalahnya”, Mubah suudzan kepada orang yang jelas ahli maksiat dan durhaka serta senantiasa berbuat dosa,
  • Kenapa الظَّنَّ disebut akdabul hadits, karena kebanyakan dzan itu tidak berdasar (tidak punya bukti) dan bohong adalah perkataan tanpa didukung bukti dan berlawanan dengan kenyataan.