Ucapkanlah Masyaallah!

Kisahnya seperti diungkap dalam surat al-kahfi dari ayat 35-39; Suatu saat orang kafir  bersama temannya yang beriman, memasuki kebun kepunyaannya. Dengan tetap menunjukkan sikap sombong, dia berkata, “Dalam dugaanku, kebun ini tidak akan pernah musnah selamanya.Aku juga tidak pernah menyangka bahwa hari kiamat itu benar-benar akan terjadi. Kalau saja hal itu benar dan aku akan dikembalikan kepada Tuhan sesudah hari kebangkitan nanti, sebagaimana kamu katakan, pasti aku akan mendapatkan yang lebih baik dari kesenangan saat ini. Karena bagaimanapun aku adalah orang yang berhak mendapatkan kesenangan hidup.”

Orang kafir itu menganalogikan hari akhirat yang gaib dengan kehidupan duniawi. Dia sama sekali tidak mengerti bahwa kehidupan akhirat merupakan hari pemberian pahala bagi yang beriman dan berbuat kebajikan.

Sahabatnya yang beriman itu mengatakan, “Apakah kamu merelakan dirimu mengingkari Tuhan yang telah menciptakan moyangmu, Adam, dari segumpal tanah dan menjadikan keturunannya dari setetes air mani. Jika kamu bangga dengan harta dan pengikut-pengikutmu, maka ingatlah Tuhan yang telah menciptakan dirimu dari tanah.

Tetapi aku akan mengatakan, ‘Sesungguhnya yang menciptakan diriku dan menciptakan alam semesta ini adalah Allah, Tuhanku. Hanya Dia yang aku sembah dan aku tidak akan mempertuhan selain Dia.’

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

Seandainya saat memasuki kebun dan memperhatikan tanaman yang ada di dalamnya itu kamu mengatakan, ‘Masya Allah! Aku tidak mempunyai kekuasaan untuk mewujudkan semua itu kecuali dengan pertolongan Allah,’ maka hal itu merupakan ungkapan rasa syukur yang dapat menjamin keabadian nikmat-nikmat itu. ” Orang yang beriman itu melanjutkan, “Kalaupun kamu melihat diriku lebih miskin dan lebih sedikit anak dan pengikutnya. (al-Kahfi: 39)

Dalam hadits diungkapkan:

مَنْ أُعْطِيَ خَيْرًا مِنْ أَهْل أَوْ مَال فَيَقُول عِنْد ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّه لَا قُوَّة إلَّا بِاَللَّهِ لَمْ يَرَ فِيهِ مَكْرُوهًا

Barang siapa yang diberi kebaikan baik berupa keluarga ataupun harta hendaklah ia mengucapkan مَا شَاءَ اللَّه لَا قُوَّة إلَّا بِاَللَّهِ ia tidak akan menemukan di dalamnya suatu yang tidak disukai.

Jadi gantilah ungkapan membanggakan diri dengan menyebut masyaallah.(M. Tata Taufik)