WEJANGAN PIMPINAN PONDOK PADA KHATAMAN KLS VI 2017

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Anak-anakku siswa kelas enam yang saya cintai

Anak-anakku yang sangat saya banggakan

Pertama kita wajib bersyukur kepada Allah SWT, bahwa kita al-Hamdulillah diberi kekuatan sehat lahir & batin, diberi kekuatan Iman & Taqwa. Semoga kesyukuran kita ini dapat menambah kekuatan iman dan taqwa kita sekalian, Amin.

Kesyukuran kita lagi, terutama saya pribadi dan kami, merasa terharu karena ternyata kalian semua bisa selesai sampai tamat di TMI ini sesuai dengan program pondok. Ini merupakan kesyukuran kita yang sangat besar. Tentunya saya pribadi juga sangat bersyukur kepada Allah SWT. sampai-sampai lisan ini secara spontan setiap kali melihat kalian, bergumam al-Hamdulillah. Ini benar-benar nyata, dan kalian bagi kami benar-benar sangat berharga & merupakan harapan.

Banyak sudah yang kami sampaikan selama kalian bersama kami di pondok 6 tahun atau 4 tahun minimal. Sehingga saya berpikir saya harus bicara apa?

Pertama saya bangga terhadap kalian, kebanggaan ini yang menuntut saya untuk memberikan nasehat dan amanat ini, supaya tidak salah langkah dalam mengarungi samudera kehidupan luas ini. sebagai orang tua sepintar apapun anaknya ia akan selalu menasihatinya, begitu juga saya, sudah suatu kewajiban bagi saya untuk memberi tahu anak-anak saya.

KEBANGGAAN = Tidak mengecewakan

Anak-anakku yang sangat kubanggakan;

Yang namanya orang tua akan sangat bangga kalau kalian ada “berprestasi” itu saya tahu? Saya tidak memperhatikan? Saya tidak terharu? Apa kalian mengira kalau saya/ kita tidak ada hubungan bathin dengan kalian? Ada sekali, dan  itu yang saya rasakan.

Hubungan bathin itu sangat dalam sekali, tapi kalau kecewanya juga bisa sangat parah, kalau kita misalkan mendengar berita atau gunjingan orang tentang anak-anakku sekalian ini “anak-anak  al-Ikhlash” apa lagi yang tamat kelas enam, karena kita terbawa-bawa. Sampai-sampai saya menyalahkan diri sendiri “dalam arti bertanya-tanya apa kekurangan kita, kenapa anak-anak begitu? Masih mudah terpengaruh, belum bisa berterima kasih, belum mengerti arti berjuang. Belum bisa menghargai orang, belum mengerti arti ikhlash dll, itu menjadi pertanyaan yang sangat menyiksa bagi kami.

Saya merasakan betul kegelisahan semacam itu, setelah lebih dari 15 th mengelola pondok ini, kegelisahan ini wajar karena saya/kita punya obsesi, punya harapan-harapan dari anak didik kita, punya nilai-nilai ideal yang harus dimiliki oleh anak-anak kita.

Dari apa yang kita baca setiap periode – setiap periode itu kita baca kemudian kita beri pekerjaan, lalu dievaluasi – kita temukan kekurangan di sana-sini, tentu itu mengecewakan kita, tapi kekecewaan itu tidak lantas membuat kita frustasi, tidak. Kita panggil kita ajak bicara, kemudian kita beri pandangan-pandangan, tak terkecuali dan ini yang paling penting, sifat-sifat seperti kurang bertanggungjawab, kurang mau berjuang! Seorang anak didik pesantren seharus memiliki rasa tanggung jawab dan ruh perjuangan (ruh jihad)

TAHU DIRI

Pangkal keberhasilan seseorang adalah penemuan dirinya. setelah kalian selesai study di TMI ini, ingat musuh kalian yang paling besar adalah “ketidak tahudirian”. Dan ini sering menjadi sebutan “Si A itu orang tidak tahu diri”. Ini intinya bahwa seseorang itu harus tahu siapa dirinya. mengetahui diri adalah kunci untuk mengendalikan hidup. Maka tidak heran kalau dikatakan “Man arofa nafsahu arofa Robbahu”.

Sekedar ilustrasi, sebelum masuk suatu tempat atau suatu komunitas, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui kesiapan diri kita, Mengetahui kamampuan diri, kemudian menganalisa juga kemampuan dan kebutuhan komunitas tersebut. Artinya baca dulu apa maunya mereka dan bagaimana kondisinya, dari situlah kita bisa menyusun strategi, untuk kemudian menentukan cara dan gaya kita masuk baur dengan mereka. Kalau masih ditemukan pertikaian sekitar khilafah, misalkan. Maka kita dengan mereka. Maka kita dituntut untuk menjadi penengah, bukan lantar memihak, kalau kita memihak pada suatu kelompok tertentu, maka kedatangan kita di situ tidak ada artinya, hanya akan memperuncing saja. Yang patut dilakukan adalah bagaimana kita bisa menyatukan yang bertikai itu “Fa aslihu baina akhawaikum”. Atau ada pertanyaan begini “Alaisa fiikum rajulun rasyiid?”

Maka dari itu

  • Kenalilah dirimu!
  • Jangan sombong dulu!
  • Jangan aksi dulu!
  • Kenali kekuranganmu!
  • Ingat kejujuran lebih utama!

Pertanyaan “saya ini siapa?” saja, kalau sudah bisa dijawab dengan benar, akan menjaga diri kita untuk tidak, mudah “tergoda” oleh hal-hal yang akan merugikan kita dunia akhirat. Misalkan kita coba untuk menjawabnya; saya ini siapa? saya adalah muslim.

Saya adalah santri; saya adalah thalibul ilmi, saya adalah generasi penerus ummat ini, dst. Pandai-pandailah memilih jawaban untuk pertanyaan “saya ini siapa”. Ingat dalam setiap shalat kita selalu menjawabnya; wa ana minal muslimin. Dan ini yang diperintahkan Allah SWT. agar kita menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban ini dulu! Ana muslim, dan dari situ akan muncul jawaban-jawaban lain yang bisa dikembangkan dalam kerangka kemusliman kita; akan muncul tujuan hidup, jalan hidup; tugas dalam kehidupan dst.

TUJUAN HIDUP

Orang hidup itu harus tahu tujuan hidupnya, supaya tidak tersesat, orang yang tersesat, biasanya karena tidak tahu tujuan.

Sebagai muslim sudah jelas tujuan hidup kita adalah mencapai ridha Allah SWT. dan jalan untuk mencapainya banyak sekali, asal kamu mau. Semua lahan semua kegiatan dalam kehidupanmu itu bisa dijadikan “jalan” untuk mencapai ridha-Nya.

Intinya yang penting kamu mau berbuat (ingat surat at-Taubah ayat 105) “Berbuatlah kamu, Allah, Rasul dan orang-orang mu’min akan melihat karya nyatamu!”

Kalau sudah mengerti tujuan hidupmu, akan terbuka lebar tugas-tugas yang menantang hidupmu, jangan lari dari tugas, ada mereka yang menunggu, menantikan arahan, mereka terdiri dari berbagai lapisan, yang muda, yang tua yang terdidik dan belum terdidik. Semuanya adalah tanggungjawabmu. Tugas dakwah itu tidak henti-hentinya, selama hayat masih dikandung badan. Jangan malas mengajar, jika memang kamu dianggap pantas untuk mengajar. Kamu adalah Guru, guru untuk dirimu, guru untuk keluargamu, tetanggamu, dan guru bagi mereka yang berada disekelilingmu. Itulah tugas.

Semuanya itu demi kepentingan dirimu dunia akhirat, demi kemajuan agama Allah di muka bumi ini, dan gilirannya nanti mudah-mudahan teriring do’a dari kami menjadi jembatan untuk mendapat ridha-Nya.

Jangan sia-siakan hidupmu yang hanya sekali ini, sekali hidup hiduplah yang berarti. ”sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.

Anak-anakku sekalian!

Islam agama yang menggerakkan, Islam tidak pernah toleran dengan kemalasan. Kemandegan dan kepasifan, seorang muslim harus selalu bergerak maju dan punya arti. Keberadaannya harus bisa dinikmati orang lain. Kita jangan terjebak dengan pandangan sempit tentang Islam, yang hanya mereduksi (memperkecil) gerak keislaman kita hanya pada tindakan-tindakan ritual peribadatan seperti yang tertera dalam rukun iman dan rukun Islam itu saja, tanpa ada gerakan lain yang berdimensi sosial: menuju pada pembinaan masyarakat.

Bagaimana pendapatmu jika ada orang yang alim, ibadahnya bagus, tapi mengurung diri di kamar, menyepi tidak berhubungan dengan orang lain?kalau ada yang demikian itu egois namanya, syukur-syukur kalau tidak terjebak dalam “ria” naudzu billah.

Untuk mendukung keterangan saya ini, coba kalian cari ayat-ayat yang berkenaan dengan dakwah, nanti kalian akan temukan betapa dakwah itu wajib, betapa mendidik itu wajib, menunjuki orang itu wajib, menasihati orang itu wajib, dan betapa tercelanya jika kita berpangku tangan jika melihat kebatilan, kekeliruan, atau tidak mau peduli terhadap hajat orang lain, hajat ummat, atau bahkan tidak mau tahu terhadap masalah umatnya, hanya sibuk dengan urusan sendiri, urusan cara makan sendiri, urusan keluarganya sendiri, betul itu juga ibadah “Jika baik niatnya” tapi betapa kecil arti keberadaanmu. Terjebak dalam rutinitas keseharian; cari makan, punya rumah, punya anak istri, punya segala fasilitas kehidupan duniawi, tapi tidak punya “bias” kepada orang lain, kalau begitu, sama saja dengan kambing.

Saya percaya anak-anak saya ini akan mengerti benar tujuan hidupnya, dan akan mengerti benar tugas kehidupannya, maka jagalah kepercayaan yang saya berikan ini, dan jika suatu saat lupa, atau tergoda, cepatlah kembali.

I’TIKAD BAIK

Modal lainnya, dalam segala hal kita harus punya I’tikad baik, berbuat apapun, atau berbicara sepatah katapun harus tidak terlepas dari niatan baik. Pendek kata, semua langkah kita harus tidak terlepas dari kerangka niat baik. Wejangan Rasulullah SAW. “Setiap perbuatan terletak pada niat/ atau motivasi yang muncul justru semangat berjuang, keberanian dan sifat-sifat positif lainnya”.

Sekedar ilustrasi betapa pentingnya I’tikad baik, tidak usah dalam perbuatan yang besar, masalah sepele seperti “ngobrol” sama teman-teman saja, kalau tidak di landasi I’tikad baik maka saya yakin akan melahirkan akhiri yang merugikan. Ini barangkali maksud dari sabda Nabi “diam itu hikmah”, saya pahami hadits ini memotivasi ktia untuk bertutur dengan selalu mengingat kegunaan dan misi, kalau saya bicara suatu ungkapan misalkan, kira-kira ada tidak faedah bagi si pendengar itu, yang positif tentunya. Artinya ucapan kita itu harus bermuatan misi atau ada maknanya yang bisa diambil oleh teman bicara kita.

CINTA ILMU

Orang Arab mengatakan “Fatan Is’yaa bima’ruufhi ba’da mautihi – kassaili majraahu marta’a”. seorang pemuda bisa hidup terus karena kebaikannya walaupun dia telah tiada, bagaikan air bah yang meninggalkan bekasnya setelah hujan reda”.

Dalam mencari ilmu kembali lagi pada niat; ibadah Thalabul ilmi, bukan niat-niat lain yang sangat berjangka pendek itu. Kalau sudah punya ilmu kamu bisa berbuat apa saja, maka jangan mencampur adukan niat thalabul ilmi dengan niat-niatan yang lain. Nanti salah-salah tidak dapat semuanya. Ingat kewajiban kita adalah mencari ilmu.

Bukan pintarnya.dan bukan nilainya yang dikejar. Percuma nilai tinggi jika ilmunya tidak ada. Jerih payah kalian dalam mencari ilmu itu yang paling berharga, kesungguhan kamu adalah menuntut dan mengejar ilmu itu yang bernilai, bukan secarik kertas yang membuat penilaian orang tentang kamu, kalau itu yang kamu kejar nanti kamu akan malu sendiri. Naudzu billah kalau sampai demi secarik kertas “daftar nilai” rela mengorbankan harga diri, membohongi diri sendiri dan sampai berbuat curang. Ingat nilai bukan tujuan, asalkan kamu tidak bodoh. Itu sudah prestasi dalam mencari ilmu; lawan kata dari aalim adalah jaahil. Walaupun kamu dianggap pintar oleh orang lain jika tindakanmu bagaikan orang bodoh tidak bisa membedakan baik-buruk; halal-haram; memintari orang; menipu dll itu artinya kamu bodoh. Orang berilmu itu akan nampak dari perbuatannya. Keilmuan adalah sama dengan kejujuran, kebijakan, keadilan, pandangan luas, lapang dada, dst.

Coba anak-anakku perhatikan bukti sejarah; dalam sejarah kedatangan Islam, Al-Qur’an menggunakan istilah Al-Jahiliin dan istilah Jahiliyah, sebagai sebutan bagi mereka yang menentang Islam, menentang tauhid dan menentang ajaran Nabi, ini artinya bahwa ilmu itu adalah Islam.

Jadi ajaran-ajaran Islam itu adalah ilmu yang paling utama, kemudian kecakapan-kecakapan lain kemahiran dan kepengetahuan lainnya ilmu juga tapi harus dimiliki dan dicari dengan semangat keislaman bukan semangat lainnya. Sampai-sampai ada yang orang-orang yang berani mengatakan begini “Indonesia, kalau bukan karena Islam, bangsanya masih pakai koteka”.

Ungkapan panjang ini kalau disingkat berbunyi begini : Kalau mau belajar atau membaca apapun, jangan lupa niatkan lillah; mulailah dengan bismillah! Minta petunjuk Allah supaya diberi ilmu yang bermanfaat.

Saya katakan ilmu itu Islam, jangan salah tafsir; hingga membuat kamu tidak bebas dalam belajar; tidak, bukan itu maksudnya. Kalian dalam belajar atau membaca jangan pilih-pilih; apa saja yang belum kalian ketahui berarti harus dipelajari. Bukankah hikmah yang datang manapun datangnya, adalah ilmu milik Islam yang terabaikan. Kata kuncinya adalah; mau belajar apapun ingat kamu itu muslim, ingat tujuanmu dan ingat sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat. Ilmu apapun di dunia ini pada dasarnya dari Allah yang dibagikan kepada manusia serba sedikit jadi manfaatkanlah pengetahuanmu yang sedikit itu untuk mengemban tugas kekholifahanmu di bumi ini.

N’Ach

David McClelland, menyebutkan tiga kebutuhan yang dimiliki manusia.

  1. Need for achhievement, kebutuhan berprestasi
  2. Need for affiliation, kebutuhan akan kasih saying
  3. Need for power, kebutuhan berkuasa

sebenarnya banyak lagi kalau kita mau meneliti diri kita rentetan kebutuhan yang sangat bisa digerakkan.

Pada kesempatan ini saya pilihkan Need for achhievement, kebutuhan untuk berprestasi. Prestasi adalah dambaan setiap orang untuk menunjukkan kamu “ada” dan kamu berharga, “prestasimu” itulah yang harus kamu tunjukkan. Dan dalam Islam manusia harus memiliki prestasi yang gemilang, banyak ayat-ayat menunjukkan dan memotivasi kita untuk berprestasi: “Berlombalah dalam kebaikan”, “Berprestasilah! Allah, Rasul dan orang-orang mu’min akan melihat prestasimu! “(At-Taubah: 105) bagitu juga nasehat dan wejangan Rasulullah tentang kita harus berprestasi banyak sekali dan saya yakin kalian sudah hafal. Seperti “Sebaik-baik pekerjaan adalah yang diakhiri dengan penyelesaian yang baik”.

Oleh karena itu kembangkanlah semangatmu, semangat untuk prestasi, untuk mengetahui, semangat belajar, karena semuanya akan banyak membantumu dalam mengarungi kehidupan ini.

Berprestasilah, karena dunia akan melihat orang yang berprestasi! Untuk menjaga prestasi, yang paling utama adalah jangan lengah, jangan merasa sudah bisa, jangan setengah-tengah dalam melakukan sesuatu, kerjakanlah dengan kesungguhan dan kegigihan

Bangsa-bangsa maju yang ada di dunia sekarang ini, mereka hanya bermodalkan N’Ach, yang kemudian bisa menghantarkan kepada kemajuan, lihat Jepang dan negara-negara barat, mereka maju bukan karena mereka meninggalkan agama-seperti diduga orang-orang bodoh-mereka maju karena mereka punya semangat untuk berprestasi. Kalaulah ummat Islam ingin maju dia harus bisa mengembangkan dan memupuk semangat untuk berprestasi dengan sebaik-baiknya. Lebih beruntungnya lagi, bagi muslim, jika berprestasi, tidak hanya mendapatkan dunia saja, tapi dua-duanya dunia-akhirat.

Jadi tidak ada alasan bagi muslim untuk melemah dan mengedor semangatnya untuk berprestasi, sebagaimana tidak ada alasan juga untuk santai. Lihat surat Al-insyirah! Surat Al-Ashr. Berprestasilah melebihi prestasi yang telah dicapai orang lain! اعملو فوق ما عملوا

Masalah N-Ach ini erat sekali hubungannya dengan courousity, atau semangat untuk mengetahui, mereka yang semangat ingin tahunya tinggi akan selalu menggali dan mencari apa yang belum diketahuinya, ini yang dinamakan menuntut ilmu dalam Islam, jadi selalu ingin tahu, yang ini adalah modal dasar kemajuan, tidak merasa sudah pintar, merasa puas dengan apa yang dimiliki ini adalah jumud. Statis.

Dan kalian harus selalu berusaha untuk dinamis, berusaha keras untuk maju dan berkembang. Kembangkanlah apa yang kalian miliki sekarang, sambil berusaha memanfaatkannya. Pandai-pandailah mengembangkan diri. Galilah pengetahuan sebanyak-banyaknya!

ISTIQOMAH

Istiqomah, kalau diIndonesiakan berarti memelihara atau menjaga apa yang telah kita miliki. Baik yang berupa kebiasaan baik; tingkah laku; keyakinan; gaya hidup; kebiasaan-kebiasaan baik serta nilai-nilai yang kita anut.

Ketika Al-Qur’an mengajak kita berisitqomah; “Mereka yang mengatakan: “Robbku adalah Allah”, kemudian tetap pada pendiriannya itu (selalu dijaga dan dipelihara) sungguh mereka tidak akan merasa takut atapun sedih“. Sengaja Allah, menunjuk pada masalah yang paling inti dalam kehidupan; mengakui adanya Allah. Dasar inilah yang harus dipelihara untuk kemudian mewarnai segala aktivitas kehidupan kita.

Dari situ akan muncul kewajiban-kewajiban penjagaan yang lain. Misalkan; orang mu’min harus berani memproklamirkan keimanannya; kemudian menunjukkan prilaku yang sesuai dengan tuntutan keimanan tersebut akhlak mulia; keteladanan; baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungannya dengan sesama manusia.

Pada saat kita diajari untuk memproklamirkan keislaman diri kita itu, kita telah ditunjukkan pada penemuan “konsep diri” yang dinamakan hidayah dengan aturan yang nyata; ajaran Islam. Kemudian kewajiban kita adalah menjaga citra kemusliman kita itu.

Anak-anakku yang penuh citra banyak citra yang kamu sedang; sebagai muslim; santri; pewaris; nabi; da’i; semuanya itu menjadi bekal selepasnya kalian dari Al-Ikhlash tercinta nan penuh citra ini kalian tidak bisa melepaskan diri dari kerangka “ke Al-Ikhlashan”, karena semua orang akan selalu menghubungkan namamu dengan latar belakang tersebut orang akan selalu akan mengingat asal usulmu, termasuk asal usul pendidikanmu, dan pada saat itulah kita juga akan terbawa.

Perjuanganmu yang dituntut dalam hal ini adalah menjaga citra dirimu itu, menjaga kesan orang, dan ini sudah termasuk jihad fi sabilillah (Hifdzul I’rdhi) kesan baik orang jangan kamu sia-siakan – ingat tidak mudah mendapat kepercayaan itu – jaga dan kembangkan, dalam segala hal kamu sekalian sudah berharga dan dihargai – tapi jangan minta dihargai – tinggal usahamu menghargai dirimu. Sudahkah kamu sudah menghargai dirimu itu, menhargai citra, menjaga dan mengembangkannya?

PENUTUP

Akhirnya saya akhiri apa yang saya sampaikan ini, dengan iringan do’a semoga anak-anakku memahami arti lillahi ta’ala, arti ikhlash dan arti berjuang dan intinya bisa mengisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

selain itu kami juga mohon do’a dari kalian agar kami dapat mengemban amanat ini, dalam mengasuh pondok, mendidik kader-kader ummat, lillahi ta’ala. Serta mohon do’anya juga agar pondok ini benar-benar menjadi tempat persemayaman kader ummat, tempat beribadah dan tempat penyebaran agama Islam sekaligus menjadi benteng Islam.

Anak-anakku sekalian!

Pondok ini, walaupun kalian sudah keluar, adalah tanggung jawabku hidup dan matinya pondok ini bukan tanggung jawab kami yang ada di pondok saja, tapi menjadi tanggung jawab kita semua maka ingatlah  jangan seperti kacang lupa akan kulitnya. Pandai – pandailah berterima kasih, pandai-pandailah membalas jasa – termasuk kepada pondokmu ini yang harus kalian ingat, pondok ini bukan milik saya pribadi tetapi menjadi milik mereka yang peduli akan kepentingan Islam kepentingan ummat.

  • Ya Allah, berikanlah kami kemampuan untuk mengembang amanat ini.
  • Ya Allah, kutitipkan anak-anakku, kepadamu.pada perlindunganMu, jadikanlah mereka orang-orang bergunabagi agamaMu.
  • Ya Allah, ampunilah segala kekurangan dan kekhilapan kami dalam mengantarkan mereka, anak-anak kami, dan bukakanlah hati mereka mereka untuk menerima petunjukMu, untuk menutupi apa yang kurang dari kami.
  • Ya Allah, mudahkanlah urusan kami urusan orang tua kami, dan urusan pondok kami.
  • Ya Allah, selamatkanlah kami dari rongrongan orang-orang yang dholim
  • Ya Allah, Tunjukkanlah kami ke jalanMu dan jauhkanlah kami dari api neraka.