Ta’lim Muta’alim

Ta’lim Muta’alim

Cara Belajar dan Langkah-langkahnya

Mengawali kitabnya Syaikh Burhanuddin al-Jarnuji (ulama abad ke VI H sekitar tahun 590 H) menulis sebagai berikut:

Segala puji bagi Allah yang memuliakan manusia dari makhluk lainnya dengan ilmu dan amal, semoga shalawat serta salam senantiasa disampaikan kepada Nabi Muhammad saw kepada keluarganya dan para sahabatnya yang merupakan sumber ilmu dan hikmah.

Ketika kami lihat bahwa banyak sekali para pencari limu di zaman ini berusaha mendapatkan ilmu namun tidak dapat mencapai manfaat dan buah dari ilmu tersebut — pengamalan dan penyebaran ilmu- – karena mereka salah dalam memilih cara belajar dan tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan ilmu. Kita tahu bahwa setiap yang salah dalam memilih jalan akan tersesat dan tidak akan mencapai maksud yang diharapkan barang sedikit pun. Maka saya ingin menyampaikan kepada mereka para pencari ilmu metode belajar yang saya dapat dari buku dan saya dengar dari guru-guru saya para ahli ilmu dan hikmah. Saya mohon do’a dari semuanya agar mendapat pahala dan keselamatan di hari akhir nanti.

Setelah beristikharah akhirnya saya beri judul:

تعليم المتعلم طريق التعلم

Melalui tulisan ini 13 pasal yang disarankan oleh Al-Jarnuji akan disajikan dalam bentuk pertanyaan dan jawaban sehingga memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya kita belajar.

Sekitar Ilmu dan Belajar

  1. Apa hukum mencari ilmu?
    1. Hukum mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang
    2. Sabda Rasulullah saw diriwayatkan oleh Ibnu Majah: طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة

Mencari limu itu wajib bagi setiap muslim baik pria maupun wanita.

  1. Apakah wajib untuk mempelajari semua ilmu?
    1. Tidak wajib untuk mempelajari semua ilmu
    2. Ilmu yang paling utama di pelajari adalah ilmu hal; ilmu yang dibutuhkan dalam berbagai kondisi kehidupan manusia seperti: ilmu tentang shalat karena shalat adalah wajib dilakukan seorang muslim dalam berbagai keadaan waktu dan tempat.ilmu tentang puasa, zakat dan haji. Juga ilmu tentang perdagangan bagi pedagang, dan ilmu tentang muamalat dan pekerjaan (profesi) agar tidak terjebak dalam hal yang diharamkan. Juga ilmu tentang keadaan (penataan) hati seperti tawakal, inabah, kerelaan dan takut kepada Allah. Serta ilmu tentang akhlak dan tentang makanan.
    3. Ilmu yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu tidak wajib mempelajarinya bagi setiap orang, tapi cukup dipelajari oleh sebagian orang saja (fardu kifayah) namun pemerintah wajib menyuruh sebagian orang untuk mempelajarinya.
  2. Mengapa harus memiliki ilmu?
    1. Karena ilmu suatu yang mulia, ilmu menjadi mulia karena ia merupakan wasilah (media) untuk mencapai ketakwaan dan kebaikan sehingga seseorang bisa mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT dan kebahagiaan yang abadi.
    2. Karena dengan ilmu juga bisa diketahui hal-hal yang dibolehkan dan dianjurkan seperti tawadhu (rendah hati) persaudaraan dan persatuan, menahan diri (ifah) dermawan, kepeloporan, dan hal-hal yang diharamkan: seperti takabur (sombong), bermewah-mewah, pelit, dan pengecut.
  3. Apa itu Ilmu, apa bedanya antara Ilmu dan Pemahaman?
    1. Ilmu itu suatu sifat atau keadaan yang memungkinkan seseorang mengetahui dengan jelas sesuatu yang dihadapkan kepadanya sebagaimana adanya.
    2. Pemahaman (al-fiqhu) adalah mengetahui ilmu secara mendalam serta mengetahui berbagai cara penyelesaian suatu masalah.
    3. Ilmu menurut Abu Hanifah: Mengetahui apa yang membuat (diri) jiwa bahagia dan apa yang membuat jiwa sengsara.
    4. Ilmu yang sebenarnya adalah: sesuatu yang diamalkan, dan mengamalkan ilmu adalah meninggalkan persoalan keduniaan untuk menggapai akhirat. Artinya seseorang yang mengamalkan ilmu akan lebih mendahulukan urusan akhirat ketimbang urusan dunia, karena jika urusan akhirat didahulukan makan hal-hal dunia akan dipandang sebagai sarana semata dan akan tercapai dengan sendirinya tanpa harus dijadikan tujuan. Seperti menuju Jakarta dari suatu kota pasti akan melewati berbagai kota antaranya.

Niat Belajar

  1. Apakah perlu niat dalam belajar?
    1. Ya setiap pekerjaan harus diawali dengan niat
    2. Pada saat belajar suatu ilmu juga harus diawali dengan niat sebagaimana sabda Rasulullah SAW. إنما الأعمال بالنيات…
    3. Karena tidak sedikit perbuatan yang nampak sebagai perbuatan duniawi karena niat yang baik menjadi perbuatan ukhrawi, dan banyak juga perbuatan berbentuk perbuatan ukhrawi menjadi hanya amalan duniawi belaka karena niat yang tidak baik.
  2. Bagaimana formulasi niat yang baik dalam belajar?
    1.  Hendaknya seorang penuntut ilmu berniat belajar untuk mencapai ridha Allah SWT dan untuk kebahagiaan akhirat, niat untuk mengusir kebodohan dirinya dan mengusir kebodohan dari orang lain, niat untuk menghidupkan agama dan melanggengkan Islam, karena Islam akan langgeng dengan Ilmu. Dan seseorang tidak akan bisa mencapai ketakwaan dan kejuhudan dengan kebodohan.
    2. Niatkan juga untuk menyukuri ni’mat akal dan ni’mat sehat.
    3. Jangan niat belajar untuk mendapatkan perhatian orang lain atau untuk mendapatkan kenikmatan duniawi semata atau cari kedekatan dengan penguasa atau penghargaan dan lainnya.
    4. Hendaklah setiap pelajar memahami bahwa belajar itu penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, maka jangan ditukar dengan persoalan-persoalan duniawi yang hina dan fana.
  3. Bagaimana Sikap Ahli Ilmu?
    1. Seorang ahli ilmu (yang memiliki ilmu) hendaknya tidak menghinakan dirinya dengan ketamakan terhadap suatu yang tidak pantas, serta berusaha menghindari suatu yang menghinakan ilmu dan pemiliknya.
    2. Seorang berilmu juga harus senantiasa tawadhu (rendah hati), makna tawadhu adalah sikap yang terletak antara takabur dan kehinaan, juga iffah (kemampuan menahan diri dari suatu yang tidak baik).

Tentang memilih Ilmu, Guru, Teman dan Keteguhan

  1. Bagaimana memilih ilmu?
    1. Hendaknya memilih ilmu yang paling utama, serta ilmu agama yang dibutuhkan dalam berbagai keadaan, kemudian ilmu yang dibutuhkan berkenaan dengan harta.
    2. Dahulukanlah mempelajari ilmu tauhid dan ma’rifah sehingga bisa mengetahui Allah SWT dengan dalil-dalinya.
    3. Pilihlah ilmu yang dianut para ulama salaf (masa klasik) dan tinggalkan ilmu-ilmu baru yang masih dalam perdebatan.
    4. Hindari memperdebatkan ilmu yang mulai muncul setelah wafatnya para ulama besar, karena akan menjauhkan dari pemahaman yang benar dan membuang usia serta melahirkan permusuhan.
  2. Bagaimana memilih guru? (konteks sekarang memilih lembaga pendidikan).
    1. Pilihlah guru/ustadz yang paling alim (berilmu) dan paling wara’ serta paling sepuh (berumur).
    2. Bermusyawarahlah dengan orang lain dalam memilih guru, karena musyawarah itu dianjurkan Allah SWT. Seseorang dikatakan sempurna jika ia memiliki pendapat yang tepat dan mau bermusyawarah dan para ahli, dan seorang dikatakan setengah orang jika ia memiliki pendapat yang tepat namun tidak suka bermusyawarah.
    3. Renungkanlah minimal dua bulan dalam proses pemilihan ustadz hingga keputusannya mantap dan karenanya bisa teguh dalam menuntut ilmu darinya, maksudnya tidak mudah-mudah pindah ke ustadz yang lain.
  3. Kesabaran dalam hal apa saja yang dibutuhkan dalam mencariu ilmu?
    1. Sabar terhadap ustadz –dalam hal sikap dan cara mengajarnya—.
    2. Sabar juga terhadap bahan ajar/kitab yang dipelajari jangan sampai ditinggalkan sebelum khatam.
    3. Serta sabar dalam menggeluti suatu disiplin ilmu dan tidak pindah ke ilmu lain sebelum benar-benar menguasai ilmu yang awal.
    4. Sabar juga untuk bisa bertahan dan menetap di suatu wilayah tempat mencari ilmu, jangan mudah-mudah pindah ke wilayah lain.
    5. Sabar terhadap dorongan keinginan dan nafsunya.
  4. Bagaimana memilih teman dalam belajar?
    1. Dalam memilih teman belajar hendaknya pilih teman yang sungguh-sungguh dan wara’ serta memiliki tabiat yang lurus dan memiliki pemahaman yang baik.
    2. Hindari memilih teman yang malas dan suka mengakhirkan pekerjaan.
    3. Hindari berteman dengan orang yang banyak bicara.
    4. Hindari berteman dengan orang yang suka merusak dan suka membuat gaduh/pengacau.

Menghargai Ilmu dan Ahli Ilmu

  1. Bagaiman meyikapi ilmu dan orang berilmu?
    1. Serang pencari ilmu harus menghargai ilmu dan orang yang berilmu.
    2. Ilmu akan didapat hanya dengan menghargainya dan menghargai para ahli ilmu termasuk para guru/ustdaz yang mengajarinya.
    3. Ali bin Abi Thalib berkata: aku adalah sahaya bagi orang yang mengajariku walau satu huruf, jika ia kehendaki bisa menjualku atau memilikiku sebagai budaknya.
  2. Apa bentuk nyata dari memuliakan guru?
    1. Diantara bentuk memuliakan guru antara lain jangan berjalan di hadapannya.
    2. Tidak menduduki tempat duduknya.
    3. Tidak memulai pembicaraan kecuali dengan izinnya.
    4. Tidak banyak berbicara terhadapnya.
    5. Tidak menanyakan sesuatu saat guru nampak sedang jenuh.
    6. Hendaklah menyampaikan sesuatu dengan mengingat waktu yang tepat.
    7. Tidak mengetuk pintunya tapi sabar menunggu hingga guru keluar.
    8. Harus meminta ridhanya.
    9. Menghindari murkanya.
    10. Menaati perintahnya sebatas tidak menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah.
    11. Termasuk menghargai guru juga menghargai anak-anak dan keluarganya.
  3. Bagaimana memperlakukan buku?
    1. Buku/kitab harus dihargai, karena menghargai kitab sama dengan menghargai ilmu.
    2. Usahakan membawa kitab dengan keadaan suci/ memiliki wudhu.
    3. Jangan menjolorak kaki terhadap kitab
    4. Kitab tafsir hendaknya disimpan di atas buku yang lain, dan jangan meletakkan sesuatu di atas buku.
    5. Termasuk menghargai buku adalah dengan menulis yang baik, tidak menyoret-nyoretnya, hindari tinta merah.
  4. Bagaimana sikap terhadap sesama teman belajar?
    1. Seorang pelajar harus menghargai sesama teman belajar.
    2. Santun dan sopan terhadap sesama sehingga dia bisa mendapat bantuan dalam belajar dari teman.
    3. Pura-pura akrab dengan teman untuk mendapatkan ilmu dibolehkan.
  5. Bagaimana cara menyimak ilmu dan pelajaran?
    1. Dalam menyimak dan mendengarkan pelajaran harus dengan penuh rasa hormat dan penghargaan yang tinggi terhadap apa yang disampaikan, supaya ilmu bisa didapat dengan tepat.
    2. Walaupun ilmu yang disampaikan itu berulang-ulang dalam satu pokok bahasan hingga seribu kali, namun tetap harus dihormati, jangan menunjukkan kelengahan.
  6. Bolehkah memilih bidang ilmu sendiri?
    1. Pelajar tidak diperkenankan memilih ilmu sendiri, tapi menyerahkan saja kepada ustadz apa yang harus dipelajari lebih dahulu, karena ustadz lebih mengetahui dan lebih berpengalaman dalam menentukannya.
    2. Ilustrasinya orang terdahulu menyerahkan ilmu apa yang harus dipelajari kepada ustadznya dan mereka sukses, sementara orang sekarang memilih ilmu sendiri dan ternyata banyak yang tidak berhasil.
  7. Bolehkah duduk berdampingan atau terlalu dekat dengan guru?
    1. Jangan duduk terlalu dekat dengan ustadz –jika tidak diperlukan– karena itu dinilai kurang sopan dan kurang menghargai guru.
    2. Jarak ideal antara guru dan murid dalam belajar minimal sebatas busur –kira-kira 1 m, dengan itu murid lebih bisa menghargai guru.
  8. Apa akibat kurang berakhlak dalam belajar?
    1. Seorang pelajar harus berakhlak mulia dan menghindari akhlak yang tercela.
    2. Seorang pelajar yangburuk akhlaknya akan sulit baginya mendapat ilmu, karena ilmu itu bersih dan akhlak tercela itu kotor, suatu yang bersih tidak bisa digapai dengan suatu yang kotor.
    3. Hindari sikap takabur dan sombong karena dengan takabur ilmu tidak bisa didapat.

Sungguh-sungguh, Rajin dan Kemauan Keras

  1. Apa sifat yang harus dimiliki seorang pelajar?
    1. Kesungguhan dalam belajar, sesuai firman Allah orang yang berjuang di jalan Kami maka Kami akan bukakan baginya berbagai jalan untuk mencapainya (al-Ankabuut: 69). Sebatas perhatian dan kesungguhanmu sebatas itu pulalah yang kamu dapat.
    2. Rajin dan terus menerus belajar. Seperti mengulangi pelajaran diawal malam dan akhir malam, waktu sahur (sebelum subuh) itu waktu yang penuh berkah, baik untuk belajar.
    3. Memiliki himmah, atau kemauan keras dalam belajar.
    4. Usaha Sekuat tenaga.
    5. Meninggalkan sifat malas, karena sifat malas itu merusak, kemalasan juga hanya akan menghasilkan penyesalan dan tidak tercapainya tujuan yang dicita-citakan.
  1. Apa penyebab kemalasan?
    1. Karena kurangnya merenungi manfaat dan keutamaan ilmu.
    2. Kurangnya memahami kenikmatan ilmu dan pengetahuan/pemahaman.
    3. Terlalu banyak makan (banyak lendir dan gas/udara dalam tubuh menimbulkan kemalasan dan kelupaan penyebabnya adalah kebanyakan makan)

Memulai Pelajaran, Beban Belajar dan Langkah-langkahnya

  1. Hari apa sebaiknya mulai suatu program pembelajaran?
    1. Hari Rabu adalah hari yang baik untuk memulai belajar atau program pembelajaran.
    2. Rasulullah SAW bersabda: Suatu perbuatan yang dimulai hari Rabu pasti akan tuntas.
    3. Hari Rabu adalah hari diciptakannya cahaya.
  2. Berapa banyak ukuran Pelajaran (banyak sedikitnya setiap pertemuan)?
    1. Adapun ukuran beban materi pelajaran yang diajarkan pada permulaan hendaknya tidak terlalu banyak, sebatas bisa diulangi dua kali untuk menguasainya.
    2. Kemudian penambahan materi dilakukan dengan cara bertahap.
    3. Intinya tidak terlalu banyak materi hingga menyulitkan bagi yang mempelajarinya.
  3. Bagaimana pentahapan materi pelajaran?
    1. Pelajaran dimulai dari yang mudah dipahami, sederhana dan tidak membosankan.
    2. Mulai dari yang aktual dan mudah ditemui dalam kehidupan.
  4. Apa yang dilakukan pelajar/murid setelah proses belajar mengajar?
    1. Hendaknya mengulangi pelajaran yang didapat.
    2. Membuat ringkasan pelajaran.
    3. Berusaha memahami dengan melakukan pengulangan/menghafal, karena dengan mengulangi pelajaran akan menambah pemahaman.
    4. Ibaratnya menghafal dua huruf lebih baik dari mendengar dua kalimat yang sulit, dan memahami dua huruf lebih baik dari menghafal dua paragraf.
    5. Jangan meremehkan pelajaran, tapi harus terus berusaha memahami dan berdo’a.
  5. Bagaimana sebaiknya belajar?
    1. Lakukan mudzakarah dengan menelaah dan mengulangi pelajaran.
    2. Berdiskusi dengan teman tentang pelajaran (munadzarah dan mutharahah) yang sudah dipelajari.
    3. Dalam hal berdiskusi jangan dicampuri amarah, karena tujuannya adalah musyawarah untuk mencapai kebenaran.
    4. Berdiskusi lebih besar manfaatnya dalam belajar dibanding dengan belajar sendiri.
    5. Selalu berusaha mendalami dan memikirkan dengan seksama ilmu yang dipelajari setiap saat.
    6. Bepikirlah ahulu dan renungkanlah sebelum menyampaikan sesuatu (berbicara).
    7. Untuk menmabah ilmu banyaklah bertanya, karena ilmu laksana lemari dan kuncinya adalah bertanya.
  6. Apakah mencari ilmu perlu biaya?
    1. Mencari limu perlu biaya, tapi kemiskinan bukan penghalang untuk mencari ilmu, karena kesehatan akal dan badan lebih utama sebagai modal menuntut ilmu.
    2. Jika memiliki orang tua kaya, justru itulah modal untuk mencari ilmu karena bisa membiayai belajar.
    3. Jika memungkinkan mencari ilmu dan belajar sambal mencari nafkah, lakukanlah.
    4. Jangan pelit mengeluarkan harta untuk mencari ilmu, dengan harta bisa membeli buku atau meminta bantuan orang lain untuk menuliskan buku, hal itu bisa memberi kemudahan dalam belajar.
    5. Jangan tamak terhadap harta orang lain, untuk itu harus memiliki keterampilan dan keahlian sehingga bisa bekerja untuk mencukupi biaya dalam mencari ilmu.
  7. Apa yang dilakukan jika mendapat ilmu?
    1. Bersyukurlah jika merasa mendapatkan ilmu, karena dengan bersyukur akan menambah ilmu.
    2. Bersyukur dengan lisan (mengucap hamdalah) dan dengan tindakan, serta dengan memandang bahwa semua ilmu dan pemahaman yang didapat itu dari Allah.
    3. Selalu meminta hidayah dan kebenaran kepada Allah.
    4. Berharaplah hanya kepada Allah dan taktlah hanya kepada Allah, siapa yang maksiat kepada Allah karena takut manusia, maka dia telah takut kepada selain Allah.
  8. Bagaimana mengenali kemampuan belajar?
    1. Setiap pelajar harus mengenali kemampuan dirinya dalam belajar. Maksudnya mengenali apakah dia mudah dalam belajar sehingga tidak perlu banyak mengulangi pelajaran atau termasuk yang lemah hingga perlu pengulangan yang banyak.
    2. Jika mengulangi pelajaran harus mengulangi keseluruhan, misalkan yang baru dipelajari hari ini diulang lima kali, yang didapat hari sebelumnya diulangi empat kali dan yang didapat hari sebelumnya lagi diulangi tiga kali. Sehingga penambahan ilmu yang baru tidak menghapus ilmu yang dipelajari sebelumnya.
    3. Mengulangi pelajaran harus dengan semangat, tidak usah bersuara lantang karena akan menguras energi, lakukanlah dengan suara sedang.
    4. Dalam mencari ilmu jangan berhenti untuk waktu tertentu karena akan merusak proses belajar.

 Bertawakal

  1. Bagaimana bertawakal dalam kontek menuntut ilmu?
    1. Dalam mencari lilmu harus tawakal
    2. Tidak sedih atau sibuk memikirkan rizki
    3. Jangan menyibukkan diri dengan mengikuti kehendak nafsu
    4. Jangan sedih karena urusan dunia, sebab kesedihan tidak bisa menahan musibah, dan bahkan merusak akal dan badan.
    5. Sibukkanlah diri dengan perbuatan baik
    6. Tabah dalam menghadapi kesulitan termasuk kesulitan dalam perjalanan untuk menuntut ilmu.
    7. Pencari ilmu hendaknya tidak menyibukan diri dengan pekerjaan lain selain ilmu.

Masa Belajar

  1. Apakah belajar terbatas usia?
    1. Belajar itu sepanjang usia dari buayan sampai liang lahat, artinya belajar itu seumur hidup.
    2. Pelajar harus memanfaatkan seluruh waktunya untuk belajar, jika bosan dengan mempelajari satu ilmu pindah ke ilmu lain.

Kasih sayang dan Nasehat

  1. Apa sifat orang yang berilmu?
    1. Simpatik dan penyayang
    2. Tidak hasad
    3. Tidak memusuhi orang lain karena hal itu hanya membuang waktu sia-sia.
    4. Lebih sibuk memikirkan kemaslahatan dirinya dari pada memikirkan penghinaan musuh.
    5. Menghindari permusuhan.
    6. Sabar terhadap perlakuan orang-orang bodoh.
    7. Tidak suudzan terhadap sesama muslim, karena merupakan pangkal permusuhan.

Memanfaatkan Waktu Untuk Belajar

  1. Kapan waktu belajar?
    1. Belajar itu di mana saja dan kapan saja
    2. Usahakan selalu bawa buku catatan dan pena sehingga bisa menuliskan ilmu yang didengar kapan saja.
    3. Jangan membuang-buang waktu percuma.
  2. Dari siapa belajar?
    1. Ambillah pelajaran dari para orang tua, karena mereka mengetahui apa yang telah lalu.
    2. Jangan melewatkan suatu ilmu berlalu tanpa usaha tuk menggapainya.

 

Menjaga Sifat Wara’ Saat Belajar

  1. Apa itu wara’?
    1. Wara’ adalah tindakan berhati-hati dalam menjalani hidup dengan senantiasa menghindari yang haram dan mengambil yang halal serta menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dosa.
    2. Dalam belajar harus berusaha bersifat wara’.
  2. Apa saja yang termasuk usaha untuk wara’?
    1. Tidak terlalu kenyang jika makan,
    2. Hindari banyak tidur,
    3. Hindari banyak bicara yang tak berguna,
    4. Hindari jajan di pasar karena tidak dijamin kebersihannya dan menyakiti orang miskin yang tidak bisa jajan.
    5. Hindari ghibah (membicarakan orang lain),
    6. Hindari tempat-tempat ngobrol yang tak berguna karena hanya akan membuang waktu percuma.
    7. Hindari bergaul dengan orang yang nakal dan ahli maksiat serta penganggur.
    8. Bergaul dengan orang-orang sholeh, karena akan mempengaruhi seseorang menjadi sholeh pula.
    9. Menghadap kiblat dalam belajar.
    10. Mohon doa dari orang-orang baik,
    11. Hindari do’a orang-orang teraniaya (maksudnya jangan menganiaya orang lain karena doa orang yang dianiaya itu terkabul).
  3. Apa manfaat sifat wara’?
    1. Pelajar yang menjaga sifat wara’ akan lebih mudah mendapat ilmu.
    2. Ilmu yang didapat akan bermanfaat.
    3. Akan dapat menyebarkan ilmu kepada orang lain.
    4. Namanya akan kekal dikenang.
  1. Apa saja yang termasuk adab belajar?
    1. Seorang pelajar hendaknya tidak menyepelekan adab atau etika dan sunah.
    2. Orang yang menyepelekan adab akan jauh dari sunah, dan yang jauh dari sunah akan menjauh dari perbuatan fardu yang diwajibkan, dan yang meninggalkan fardu akan jauh dari kebahagiaan akhirat.
    3. Seorang pelajar juga harus berusaha memperbanyak shalat, dan berusaha khusyu dalam shalatnya, karena akan mempermudah untuk mendapatkan ilmu.

 

Memperkuat Hafalan dan Melemahkannya

  1. Apa penyebab kekuatan menghafal?
    1. Sungguh-sungguh
    2. Rajin
    3. Sedikit makan
    4. Shalat malam
    5. Membaca al-Qur’an
    6. Memperbanyak shalawat
    7. Bersiwak (menyikat gigi)
    8. Makanan dan minuman yang sehat seperti madu, susu campur gula, makan anggur kering dll.
  2. Apa saja penyebab lupa?
    1. Berbuat maksiat
    2. Banyak dosa
    3. Permusuhan
    4. Kesedihan karena memikirkan dunia
    5. Makan makanan yang tidak sehat.

 

Hal-hal yang Mendatangkan Rizki dan yang Menjauhaknya, hal yang Memanjangkan umur dan Menguranginya.

  1. Apa saja yang mendukung untuk terus belajar dan thalabul ilmi?
    1. Dianjurkan untuk mengetahui apa-apa yang bisa menambah usia dan menjaga kesehatan, hal ini perlu untuk membuka kesempatan belajar yang lebih luas.
    2. Renungkan hadits Rasulullah SAW. “Qadar tidak bisa dirubah kecuali dengan do’a, umur tidak bisa ditambah kecuali dengan perbuatan baik, dan seseorang akan jauh rizkinya karena perbuatan dosa yang dilakukannya.” (HARI. Ahmad).
  2. Apa yang menjauhkan rizki?
    1. Berbuat dosa
    2. Berbohong
    3. Tidur sesudah subuh
    4. Banyak tidur
    5. Tidur telanjang
    6. Kencing telanjang
    7. Makan dalam keadaan junub
    8. Makan sambil tiduran
    9. Membiarkan makanan jatuh
    10. Mengepel rumah di malam hari
    11. Meninggalkan sampah rumah tangga di rumah.
    12. Berjalan di depan para guru/ustadz
    13. Memanggil kedua orang tua dengan menyebut namanya
    14. Membersihkan sisa makanan di gigi menggunakan kayu sembarangan
    15. Duduk di depan pintu
    16. Bersandar pada pintu
    17. Wudlu di wc
    18. Menjahit pakaian yang sedang dipakai
    19. Mengeringkan muka dengan pakaian
    20. Membiarkan laba-laba di rumah
    21. Meremehkan shalat (tahawun).
    22. Cepat-cepat keluar mesjid bada shalat subuh
    23. Cepat-cepat ke pasar dan berlama-lama di pasar
    24. Tidak menutup wadah makanan yang berisikan makanan
    25. Mendoakan yang jelek kepada orang tua.
    26. Menulis dengan pena yang terikat
    27. Tidak mendoakan kedua orang tua
    28. Pakai celana sambil berdiri
    29. Pelit dan kikir
    30. Menghamburkan warta
    31. Malas dan menganggap remeh setiap urusan (tidak fokus)

 

  1. Hal yang mempermudah rizki?
    1. Semua lawan dari perbuatan di atas.
    2. Bermuka ceria
    3. Berbicara /tutur kata yang sopan dan baik
    4. Menyapu halaman rumah
    5. Membersihkan perabotan
    6. Shalat dengan khusu, tuma’ninah dalam setiap rukun dan sunah serta adabnya
    7. Shalat duha
    8. Membaca surat waqiah terutama di malam hari, membaca surat al-mulk, al-muzamil, al-lail,dan al-insyirah.
    9. Ke mesjid sebelum adzan
    10. Menjaga wudlu
    11. Shalat witir dan sunah fajar di rumah
    12. Tidak terlalu membicarakan masalah dunia sesudah shalat witir
    13. Tidak banyak bergaul dengan wanita, kecuali jika dibutuhkan.
    14. Tidak berbicara hal-hal yang sia-sia.
    15. Membaca hamadalah, tasbih dan tahlil 33 x setiap selesai shalat, beristigfar dan bersholawat serta berdoa.
  2. Apa saja yang dapat memperpanjang Usia?
    1. Berbuat kebaikan
    2. Menghormati orang-orang tua
    3. Silaturahim
    4. Hindari memotong pepohonan jika tidak perlu
    5. Memperbaiki wudlu
    6. Memperbaiki shalat
    7. Membaca al-Qur’an anatar haji dan umroh
    8. Memelihara kesehatan dengan mempelajari ilmu kesehatan.