REUNI; SILATURAHMI KINI DAN NANTI

Oleh: Isa Nur Zaman*

Pada Sabtu, 9 Juli 2016, Ikatan Alumni Pondok Modern Al Ikhlash (IKPMI) mengadakan Reuni Akbar dalam bentuk Halal bi Halal di Pondok Pesantren Modern Al Ikhlash, Kuningan. Sayangnya, penulis belum dapat menyempatkan diri untuk ikut dalam acara tersebut karena ada agenda lain pada waktu yang sama. Tulisan ini setidaknya menjadi bagian kecil dari partisipasi dalam acara tersebut meskipun tidak dapat bertemu secara fisik. Setidaknya juga dapat mengobati rasa kangen untuk bertemu dengan para guru, para sahabat dan tentunya napak tilas suasana Pondok yang laksana ibu kandungku.

Dilihat dari salah satu perspektif, reuni merupakan upaya menyusun potongan puzlepuzle yang terserak dalam keberpisahan. Menyusun kembali kenangan baik maupun buruk, kenangan manis maupun pahit dalam masa lampau. Tentu di dalamnya ada torehan rasa rindu, rasa haru, rasa malu, atau bahkan masih adanya kegalauan-kegalauan yang tak terungkapkan. Semua rasa itu berbaur, bercampur dalam suatu pertemuan yang membangkitkan nostalgia dan suka cita di tengah himpitan persoalan hidup masing-masing.

Jika buka Cambridge Advanced Learner’s Dictionary Third Edition, kata reuni (reunion) memiliki dua arti. Pertamaa social event for a group of people who have not seen each other for a long timeKeduasituation when people meet again after they have not seen each other for along time. Sementara di Kamus Besar Bahasa Indonesia, reuni diartikan pertemuan kembali, sedangkan reunifikasi memiliki arti penyatuan kembali.

Apabila melihat arti dari kedua kamus tersebut, reuni merupakan kegiatan maupun situasi pertemuan maupun penyatuan kembali dari sebuah komunitas setelah sekian lama tidak bersua. Makna meyatukan kembali tentunya dapat saja dimaknai secara subjektif dan pastinya berbeda dari setiap peserta reuni. Dapat dimaknai sebagai acara maupun suasana atau keduanya menyatu bersama. Termasuk juga tergantung dari apa tujuan panitia mengadakan acara reuni dan peserta juga memiliki tujuan apa untuk mengikuti acara reuni tersebut.

Reuni dan Silaturahmi

Upaya menyatukan dan mempertemukan kembali para alumni tentunya memiliki tujuan mulia. Menjalin silaturahmi, menyambungkan kembali ikatan yang terputus, memaafkan kembali luka-luka lama yang pernah ternoda. Banyak masalah yang pernah terjadi di masa lampau bukan tidak mungkin untuk dicairkan pada saat bertemu di acara reuni.

Pada masa di Pondok dulu, mungkin kita sering dapat marah, ada juga yang justru sering dapat hadiah. Ada masa ketika kita sering kena tampar, “elusan” sajadah, bahkan ada juga yang harus merelakan mahkota kebanggaan di kepalanya hilang “dimakan” gunting rambut Bagian Keamanan (qism al amni). Namun ada juga masa-masa yang membanggakan saat kita menerima piala, pujian asatidz, maupun di saat mampu menggapai nilai terbaik (excellent)hemm… Yaa, itulah kenangan, yang kini hanya sebuah kenangan.

Setiap santri termasuk alumni di dalamnya, tentunya banyak memahami bahwa kita selama ini selalu diajarkan untuk menyambung, menjaga dan mempertahankan silaturahmi. Bahkan setiap menjelang liburan panjang, setiap santri dibekali konsep dan praktek etiket yang tidak tanggung-tanggung disampaikan langsung oleh Mudir Pondok. Kuliah etiket yang didalamnya termasuk juga mengajarkan berbagai etika dalam bersilaturahmi menunjukkan betapa pentingnya ajaran silaturahmi.

Silaturahmi sebagai salah satu esensi dari tradisi reuni tentunya dapat memperluas pintu rezeki. Rezeki tentunya tidak sebatas materi maupun hitungan rupiah ansich. Pertemuan dengan asatidz dan ikhwah alumni tentunya sebuah rezeki yang tidak bisa dihitung secara materialistik. Dalam konteks ilmu komunikasi, networking maupun jaringan pertemanan dari sebuah pertemuan tentunya akan lebih mempermudah sampainya pesan yang diinginkan terhadap komunikan yang lebih banyak dan heterogen.

Dalam dunia komunikasi kontemporer, proses reuni dalam konteks bertemu dan berkomunikasi bukan menjadi hal yang sulit lagi. Di dunia maya bahkan kita dapat melakukan reuni setiap saat. Adanya media sosial tentunya dapat digunakan lebih mudah dan murah daripada untuk bertemu secara langsung. Penulis bersama beberapa rekan seangkatan tidak terlalu sulit ketika panitia meminta untuk mengumpulkan dana acara reuni dari setiap marhalah. Tidak perlu mendatangi rumah setiap alumni, tidak pula harus menghubungi satu-persatu, cukup kita “mengetuk” rumah grup Whatsapp Excellent dan kita bersilaturahmi di dalamnya, alhamdulillah dana yang ditargetkan untuk disampaikan ke panitia dapat terkumpul.

Salah satu bentuk nyata untuk upaya silaturahmi alumni yang lebih berkesinambungan, alangkah lebih baik jika dalam acara reuni juga dapat memetakan potensi alumni untuk membangun kekuatan Al Ikhlash di masa mendatang (The Power of Al Ikhlash). Alumni adalah asset berharga yang dapat menjadi potensi bagi IKPMI sebagai lembaga maupun bagi para alumni itu sendiri. Karena itu, selain sisi ritualitas seremonial agenda reuni yang padat, panitia sebaiknya dapat pula mengkoordinasikan pembuatan database alumni dari berbagai angkatan dan  latarbelakangnya sehingga memberikan nuansa kemaslahatan dan kekuatan alumni di masa mendatang.

Reuni untuk Nanti

Hal lain yang penting dari sebuah acara reuni adalah bagaimana kita memposisikan acara reuni ini sebagai sebuah ibadah. Hal ini penting karena ketika kita meniatkan untuk berpartisipasi dalam reuni ini sebagai bentuk ibadah kepada Alloh SWT maka yang muncul hanyalah aktivitas yang mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Mungkin niat inilah yang dapat memagari kita selama proses acara maupun kegiatan reuni ini berlangsung agar dapat lebih maslahat.

Tidak akan ada penghambaan terhadap ilaah-ilaah duniawi, tidak pula menjadi ajang “pameran” bagi mereka yang dianggap sukses baik dari sisi materi, pendidikan, profesi, intelektual, bisnis maupun lainnya jika ketaatan kita kepada Alloh SWT sebagai landasan dalam acara reuni. Tidak ada acara hura-hura dan hore-hore yang hanya menghabiskan waktu dan biaya dalam sekejap untuk kesenangan sesaat. Tatkala dasarnya lillaahi ta’ala bukan tidak mustahil justru kita akan mendapatkan kebahagiaan tatkala mampu memaafkan dan berdamai dengan masalah kelam kita di masa lampau.

Reuni juga dapat menjadi ajang berbagi (share) dan peduli (care) antar alumni yang (mohon maaf) berada dalam kesulitan. Dalam konteks inilah kesempatan bagi kita untuk dapat berbagi dan peduli atas kelebihan yang dititipkan Alloh SWT hingga saat ini kepada kita. Pertemuan, dukungan dan empati antar sahabat dalam mensupport kehidupan yang lebih baik tentunya lebih bermanfaat dari sekedar mengumbar tawa dan canda yang berlebihan. Kekuatan berbagi dan peduli dari alumni inilah justru yang dapat menumbuhkan eksistensi Pondok Pesantren Modern Al Ikhlash yang lebih berkemajuan.

Spiritualitas reuni harus ditumbuhkan sejak dini dengan terus mengasah empati terhadap orang lain. Dalam hal ini pengabdian asatidz yang terus membangun generasi baru dari berbagai angkatan perlu menjadi teladan bagi alumni, terutama yang tidak pernah mengabdi di Pesantren. Napak tilas terhadap nilai-nilai “Ikhlash”, “Jujurlah Kamu”, “Siap Dipimpin, Siap Memimpin” dan spirit transendental lainnya setidaknya dapat mengingatkan bahwa yang akan kita bawa pada reuni hakiki sejatinya adalah aktivitas kita selama ini atas aplikasi nilai dan ajaran kebaikan yang telah kita pelajari.

‘Ala kulli hal, dari berbagai sisi positif maupun negatif sebuah kegiatan reuni jangan sampai melupakan proses reuni hakiki yang akan kita hadapi di Padang Makhsyar. Reuni yang dilakukan kita di bumi (terrestial) harus menjadi sarana agar kita mendapatkan nilai “mumtaz” hingga dapat kembali reuni di langit (cellestial) pada saatnya nanti. Pertanyaannya, apakah kita akan masuk dalam kelompok orang-orang yang akan reuni di Surga nanti? Selamat bersilaturahmi semoga berkah dan maslahah. Wal’ilmu ‘indallahi.

(Penulis Alumni Pondok Pesantren Modern Al Ikhlash tahun 2000/EXCELLENT)