INTERNET SEBAGAI MEDIA DAKWAH

Internet, Ruang Publik dan Perang Ideologi

Sejak ditemukannya internet pada awal tahun 1990an, perkembangan teknologi komunikasi terus mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan oleh para praktisi demi terciptanya iklim komunikasi yang cepat dan efisien.

Internet memang mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh media konvensional, Tim O’ Reilly (dalam John Sullivan, Media Audiences: Effect, Users, Institution and Powers, 2013: 219) menyebutkan dua aspek yang dimiliki internet: Pertama; Aspek Teknologi, dari sisi teknologi, internet memudahkan pertukaran data dan informasi dengan menggunakan device yang berbeda-beda, seperti komputer, tablet, mobile phone, atau device lainnya yang memungkinkan. Dengan adanya kemudahan ini user (istilah untuk pengguna internet) dapat saling berbagi dimanapun ia berada selama memiliki device yang dapat mengakses jaringan internet. Kedua: Aspek Sosial, dengan mudahnya pertukaran informasi melalui berbagai device, user dapat menggunakan teknologi internet untuk berinteraksi dengan banyak orang. Berbeda dengan interaksi di dunia offline, internet memudahkan penggunanya untuk menjangkau khalayak yang luas dengan cepat dan biaya yang lebih murah.

Senada dengan O’Reilly, Steve Jones menjelaskan bahwa; “The internet is not only a technology but an engine of social change, one that has modified, education, social relations generally, and may be most important our hopes and dreams”. (dalam Rully Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber). Dua aspek internet yang dikemukakan O’Reilly dan peran internet sebagai “engine of social change” yang dijelaskan Steve Jones, layak untuk kita renungkan, bahwa internet merupakan media yang memiliki peran cukup penting dalam kehidupan kita saat ini. Internet bisa berperan sebagai agen perubahan yang mampu merubah perilaku sosial masyararakat.

Internet saat ini sudah menjadi “ruang publik” baru, dimana dengannya setiap individu ataupun organisasi dapat saling berbagi konten tertentu tanpa harus melewati proses sensor atau filterisasi yang ketat. Kebebasan berekspresi menjadi benar-benar terrealisasi dalam dunia maya, dimana orang-orang yang terlibat didalamnya tidak diatur oleh sekat-sekat status sosial.

Konsep internet sebagai ruang publik baru mengacu kepada konsep “ruang publik” yang dikenalkan Jurgen Habermas (2007:56), menurutnya ruang publik yang ideal akan terpenuhi dengan 3 kriteria berikut: Kesetaraan status/ketiadaan hirarki sosial, adanya kepentingan bersama, dan terciptanya publik yang inklusif.

Faktanya, internet memenuhi semua kriteria ruang publik yang disebutkan Habermas. Saat berselancar di dunia maya dan berbagi informasi, status-status sosial tidak terlihat jelas, setiap orang mendapatkan hak dan kesempatan yang sama untuk saling berbagi informasi Internet juga menjadi tempat untuk saling mendiskusikan kepentingan-kepentingan umum, memberi masukan kepada penguasa, ataupun menjadi media untuk berbagi ideologi. Terakhir, isu-isu yang dibahas di internet menjadi konten yang inklusif, terbuka untuk umum dan dapat diakses oleh siapa saja.

Kesadaran akan pentingnya internet sebagai “ruang publik’ baru yang masih minim sensor dan dapat dimaanfaatkan untuk menjangkau publik yang lebih besar dengan cost yang lebih murah, digunakan individu dan berbagai organisasi untuk menggunakan internet sebagai media sosialisasi dan propaganda.

Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa internet telah menjadi “zona perang” ideologi baru. Penelitian yang dilakukan oleh Anne Aly dengan Judul “The Internet as Ideological Battleground”menunjukkan bahwa internet menjadi arena untuk ekstrimis di Australia dalam menyebarkan konten radikalnya melalui internet. Hal yang persis sama juga terjadi di Indonesia, kita menemukan banyak pesan-pesan berisi Propaganda ISIS (Islamic State of Iraqi and Syiria) yang tersebar melalui internet seperti youtube maupun facebook. Belum lagi, gerakan-gerakan liberalisme, hedonisme, sekularisme, yang coba mejauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan sosial individu juga menyebarkan propagandanya melalui internet.

Tantangan dan Pekerjaan Rumah untuk Para Da’i
Dapat dikatakan jika internet saat ini menjadi “zona perang” ideologi yang harus diwaspadai, terutama oleh para da’i di Indonesia, dimana internet dengan berbagai kelebihannya dijadikan media sosialisasi dan propaganda untuk menyebarkan berbagai ideologi dan kepentingan.

Berdasarkan data yang diungkapkan kepala humas kominfo Ismail Cawidu, ia menjelaskan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 73 juta orang pengguna, ini berarti hampir 29 % dari penduduk Indonesia mengakses internet, dimana aktivitas utamanya berkaitan dengan media sosial (Social Media). Fakta lain juga menunjukan bahwa 52 juta dari internet user mengakses media sosial mereka melalui mobile devices selama rata-rata 3 jam perhari. (Kompas.com).

Data diatas menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah akrab dengan internet, terutama media sosial, dimana sehari-hari internet berada dalam genggaman tangan mereka melalui mobile devicesyang sangat mudah untuk dibawa ke mana-mana yang didominasi oleh akses terhadap media sosial. Ini juga menunjukkan bahwa akses pertukaran informasi di Indonesia dapat dijangkau dengan cepat dan mudah. Interaksi sosial masyarakat sebagian kecil telah bergeser melalui dunia maya.

Fakta diatas tentu menjadi sangat menarik, dan sangat sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para da’i. Sudah saatnya internet dijadikan arena untuk menyebarkan konten-konten edukasi Islam yang benar. Konten-konten edukasi islam tersebut dapat disebarluaskan melalui laman website, instans messaging, dan media sosial. Seperti; website pribadi dan institusi, youtube, email, whatsup messenger, blackberry messenger, instagram, facebook, twitter, path, google plus dan sejenisnya. Ini menjadi sangat penting karena, jangan sampai media-media tersebut diisi penuh oleh konten negatif.

Dengan memanfaatkan internet, dakwah bisa lebih fleksibel dan menjangkau kalangan yang lebih luas dengan cost yang murah. Dengannya, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar-mimbar di dalam masjid, ataupun madrasah, namun dapat diakses kapanpun melalui gengaman tangan. Seorang da’i tidak harus menempuh jarak untuk menyampaikan pesan dakwah, melainkan cukup dengan menggunakan device teknologi komunikasi.

Perlu disyukuri bahwa kesadaran penggunaan internet sebagai media dakwah sudah banyak dilakukan terutama oleh da’i-da’i populer yang sering muncul di televisi nasional yang memiliki banyak followers, sebut saja KH. Abdullah Gymnastiar, Ust. Yusuf Mansur, Ust. Arifin Ilham, Ust. Bachtiar Natsir, Ust. Zaky Mirza dan lain sebagainya yang sudah menggunakan media sosial seperti youtube, facebook dan twitter untuk menyebarkan informasi ke-Islaman.

Dari luar Indonesia kita mengenal Dr. Zakir Naik, pendiri sekaligus presiden Islamic Research Foundation (IRF). Ulama India yang akan diundang Gontor untuk hadir dan memberikan ceramah pada acara 90 tahun Ponpes Gontor ini biasa menggunakan metode dialogis (Jadal al-husna) dalam dakwahnya. Ia juga banyak mengupload ceramah-ceramahnya melalui youtube (https://www.youtube.com/user/Drzakirchannel), tayangan-tayangannya bahkan menjadi viral dan banyak diupload ulang oleh user lain dengan tambahan terjemah bahasa.

Namun, tentunya jumlah para ulama yang sudah menggunakan internet sebagai media dakwah ini masihlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah pesantren /lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Data Kementerian Agama (Kemenag) tahun 2012 misalnya, menunjukan jumlah pesantren yang tercatat di Kemenag sebanyak 27.230. Andai saja setiap pesantren tersebut menggunakan internet sebagai media dakwah, Indonesia dapat memunculkan 27.230 da’i yang berperan aktif menggunakan. Tentu dengan ini diharapkan mampu para da’i menjangkau mad’u yang lebih luas dan meminimalisir dampak dari konten negatif di internet.

Oleh karena itu, tantangan pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana agar para kiai, ulama dan asatidz yang berteberan dan mengabdikan diri di berbagai lembaga pendidikan Islam terutama pesantren, diberikan akses dan pengetahuan yang baik tentang penggunaan internet. Akses ini dapat berupa pelatihan ataupun penyediaan infrastruktur komunikasi yang layak, ini penting untuk meminimalisir digital devide dikalangan lembaga pendidikan Islam.

Adapun Pekerjaan Rumah (PR) yang juga penting bagi para da’i dalam menggunakan internet adalah terletak pada packaging atau bagaimana agar dakwah yang disebarkan melalui media internet ini dapat menarik minat user. Seperti yang sudah kita ketahui saat ini bahwa pengguna media internet, bukanlah pasif user yang mengkonsumsi pesan begitu saja. Mereka adalah aktif user yang bahkan dapat memilih situs website apa saja yang mau dikunjungi sebagai media rujukan. Selain itu mereka juga akan lebih interaktif dan kritis dalam mendiskusikan konten dari dakwah yang disampaikan.

Maka, daya tarik sumber (source attractiveness) dan kredibiltas sumber (source credibility) mejadi hal yang perlu dipikirkan agar khalayak mau dan menjadi pengunjung setia website ataupun media sosial para da’i. Jangan sampai kemudian para da’i menyebarkan sebuah informasi yang tidak shahih atau bahkan mengandung israiliat bahkan hoax. Ini berarti bahwa para da’i harus lebih bekerja keras untuk memilih konten-konten yang dapat dipertanggungjawabkan dari sumber yang shahih. Hal tersebut menjadi catatan penting karena terkadang para user banyak menyebarkan sebuah informasi yang menjadi viral, padahal informasi tersebut belum dikonfirmasi kebenarannya. Oleh karena itu, pengetahuan akan keshahihan sumber informasi yang akan disebarkan harus menjadi standard kompetensi yang dimiliki para da’i.

Bayangkan saja, jika 100 orang saja da’i di Indonesia menyebarkan 1 pesan kebaikan setiap harinya, kemudian menjadi viral di internet, tersebar dan mampu menjangkau ribuan bahkan jutaan penduduk Indonesia, maka ini menjadi akumulasi kebaikan, dan bukan tidak mungkin dapat merubah kehidupan sosial masyarakat Indonesia menjadi lebih religius.

Akhirnya, yang perlu ditekankan kembali adalah pentingnya media internet dijadikan media dakwah oleh para da’i dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Namun, perlu menjadi perhatian bahwa penggunaan media internet sebagai media dakwah, bukan berarti mengesampingkan media konvensional lainya (seperti ceramah, koran, radio, dan televisi), karena tidak semua segmen khalayak dapat dijangkau oleh internet. Internet hanyalah sebagai pelengkap dari media-media yang sudah ada bukan sebagai pengganti. Wallahua’lam….

Ade Irfan Abdurahman, M.Si adalah alumni Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash tahun 2007, lulus S1 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) tahun 2012 dari UIN Syarif Hidayatullah lulus, dan menamatkan pendidikan S2 jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia tahun 2015.