AKAL DAN KEBEBASAN BERPIKIR

Oleh : Abdul Malik *

Islam Memelihara Akal

Salah satu prinsip dasar yang menyertai kehadiran Islam adalah tujuannya untuk memelihara akal, hifdz al-‘Aql. Dalam Islam, kedudukan akal/rasio menempati posisi yang sangat terhormat. Sehingga sekiranya ada tindakan yang dapat merusak dan mendisfungsikan peran akal, pastilah tindakan tersebut akan dilarang. Bagi para filosof muslim sendiri, akal adalah pembeda hakiki (al-Fashl al-Dzâtiy, differensia essensial) bagi manusia dari makhluk hidup lainnya. Sebab itu, terkenal sekali definisi mereka terhadap manusia sebagai al-Hayawân al-Nâthiq, yakni “hewan rasional”. Karena dengan akal yang sehat manusia bisa membedakan antara mana yang baik dan mana yang buruk, dan melalui akal pula—walau bukan satu-satunya—manusia akan sampai pada kebenaran bahkan mengenal yang Maha benar itu sendiri.

Akal adalah salah satu instrumen terpenting dalam diri manusia. Melalui akalnya manusia bisa berpikir, berimajinasi, berkreasi, beraktualisasi serta menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Tanpa akal, mungkin manusia tak lebih sebagai makhluk hidup yang terdiri dari kepingan daging dan tulang. Dan, ajaran Islam yang luhur ini juga tak bisa dipahami dengan baik kecuali dengan penalaran dan pendayagunaan akal yang sehat. Itu sebabnya, tuntutan syariat (taklif al-Syar’i) dalam Islam tak berlaku untuk anak kecil atau orang gila. Sebab, keduanya belum dan tidak memiliki akal yang matang dan sehat.

Al-Qur’an Menghormati Kedudukan Akal

Lebih dari itu, al-Qur’an juga pada dasarnya menghormati kedudukan akal. Atau, jika menggunakan terma yang agak sedikit ‘nakal’, al-Qur’an adalah kitab yang “rasional”. Bukan saja karena dalam puluhan ayatnya ia selalu mendorong manusia untuk berpikir dan mendayagunakan akal, tetapi juga karena upaya penyingkapan makna dan pesan-pesan yang dikandungnya tak bisa dilepaskan dari peranan akal itu sendiri, walaupun dalam hal ini akal bukanlah satu-satunya alat untuk memahami al-Qur’an.

Dalam konteks ini, Imam Ali, misalnya, pernah berkata, “al-Qur’an itu hanya lah teks tertulis di antara dua sampul, ia tidak bisa berbicara, tetapi melaluinya lah manusia berwacana”. Ungkapan tersebut seolah ingin menegaskan bahwa kendatipun al-Qur’an adalah wahyu yang turun dari “langit”, tetapi karena wahyu tersebut menubuh dalam bentuk teks, dan teks itu sendiri mewujud dalam bahasa manusia, maka untuk menangkap makna dan pesan-pesannya membutuhkan penalaran manusia, karena al-Qur’an tidak berbicara. Dengan demikian, peranan akal manusia dalam menafsrikan al-Qur’an lagi-lagi tidak bisa dikesampingkan.

Pentingnya kedudukan akal tersebut berkaitan erat pula dengan pentingnya kebebasan dalam berpikir. Tentu saja kebebasan yang dimaksud bukan kebebasan mutlak yang melampaui batas dan aturan. Dapat dibayangkan jika semua orang dibebaskan tanpa secuilpun diikat dengan aturan; dunia akan galau, kehidupan menjadi kacau. Tetapi memang pada dasarnya prinsip berpikir itu sendiri adalah bebas. Dalam arti, selama suatu pemikiran itu dikemukakan secara sadar, tidak mengganggu hak orang lain, dan didasari dengan penuh tanggung jawab, maka berpikir itu bebas dan tidak terlarang.

Sayangnya, oleh sebagian kalangan kebebasan tersebut dipandang sebagai ‘kegenitan’ intelektual yang tidak wajar. Sebab cukup beresiko dan potensial mengacaukan bangunan intelektualisme Islam. Ujungnya, kebebasan sering dikecam bahkan dianggap sebagai ‘barang haram’ yang mesti dibumi-hanguskan. Dalam ranah intellectual discourse, misalnya, masih sering kita jumpai fenomena saling mengafirkan, menyesatkan bahkan memusyrikan antar sesama. Dan mirisnya, jika muncul suatu gagasan dan tafsir keagamaan yang baru, selalu saja dianggap sebagai penistaan terhadap Islam, al-Qur’an, nabi, Tuhan dan lain-lain. Eksklusivitas berpikir semacam ini tentu adalah bagian dari potret keberagamaan yang menggelikan sekaligus mengindikasikan ketidak-dewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Padahal, Islam sendiri mengakui akan adanya prinsip kebebasan. Dalam Islam, misalnya, manusia diberi kebebasan dalam memilih keyakinan; Islam tak mengenal paksaan dalam hal berkeyakinan, semua orang bebas untuk memeluk agama dan berkayikanan apa saja, asal kelak keyakinan tersebut dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Dalam perkataan lain, Tuhan hanya menunjukan jalan, persoalan jalan mana yang akan ditempuh, semuanya diserahkan kepada manusia.

Kebebasan Berfikir yang Inovatif dan Konstruktif

Pertanyaannya kemudian, jika dalam hal berkeyakinan saja Allah memberi kebebasan, lalu mengapa kebebasan dalam berpikir mesti ditentang? Memang konsekuensinya kebebasan tersebut potensial melahirkan pemikiran-pemikiran bebas dan liar yang terkadang bertolak-belakang dengan pandangan baku umat Islam. Tetapi, fakta menunjukan bahwa keragaman cara berpikir itu sendiri pada akhirnya memperkaya khazanah keilmuan Islam. Seandainya kebebasan itu tidak diakui, mungkin peta pemikiran Islam tak akan meluas seperti sekarang.

Ini penting disadari, bukan dalam konteks mendukung tumbuh-suburnya pikiran-pikiran liberal yang meruntuhkan bangunan ortodoksi Islam, tapi dalam upaya membangun kesadaran bahwa setiap orang bebas menelurkan pikiran dan gagasan-gagasannya, lebih-lebih jika pikiran tersebut inovatif dan konstruktif. Sehingga, dengan menyadari hal tersebut, umat Islam bisa lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan pandangan. Toh seliar apapun pikiran seseorang, selama dia tidak berhenti belajar dan selalu terbuka untuk dikritik dan diluruskan, pada akhirnya akan kembali kepada jalan yang benar.

Berangkat dari hal itu, Syekh Muhammad al-Ghazali pernah berkata “Aku tidak takut dengan orang yang berpikir walaupun salah, karena kelak ia akan kembali pada jalan yang benar, akan tetapi aku takut dengan orang yang malas berpikir walaupun benar, karena orang seperti itu tak ubahnya seperti bulu yang diterpa angin (tidak punya pendirian)”. Dengan demikian, pada dasarnya berpikir itu bebas, asal kebebasan tersebut diimbangi pula dengan kesadaran penuh bahwa hasil pemikiran kita bukanlah yang paling benar dan selalu membuka diri untuk terus belajar.

Islam sebagai agama yang adiluhung tak mungkin rasanya memasung kreativitas manusia untuk berpikir. Sebab, al-Qur’an sendiri, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Quraish Shihab, mendukung adanya kebebasan berpikir. Bahkan, Abbas Mahmud al-‘Aqqad, penulis kenamaan Mesir, dengan tegas menyatakan bahwa berpikir adalah bagian dari kewajiban agama! (Gagasan itu kemudian ia tuangkan kedalam sebuah buku cantik bertajuk al-Tafkîr Farîdlah Islâmiyyah).

Semoga dengan menyadari akan adanya kebebasan berpikir tersebut, percakapan intelektual kita akan terasa lebih kondusif, ramah, harmonis, dialogis, inovatif dan konstruktif sehingga tidak ada lagi fenomena saling hujat-menghujat, sesat-menyesatkan apalagi disertai dengan cercaan yang kotor dan tidak wajar. Tuhan memberikan kita kemampuan akal yang berbeda. Maka, sudah barang tentu dari perbedaan tersebut akan lahir pemikiran yang berbeda pula. Seandainya Tuhan menghendaki, bukan hal yang sulit untuk menyama-ratakan akal pikiran kita. Tapi, Dia menghendaki agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Allahu ‘alam bi al-Shawab..

*Penulis adalah alumni PP Al-Ikhlash yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir.

*Tulisan ini pernah dimuat sebelumnya dalam Buletin Terobosan Edisi Reguler 364, tanggal 4 Oktober 2014.